Recent Posts

Rabu, 30 Maret 2016

MANUSIA SELESAI

MANUSIA SELESAI

Oleh: Yazid albusthomi

Publik tak lagi kaget, apalagi menangisi terhadap antiklimaks dalam dunia karier poloitik seseorang yang sudah terlalu sering terjadi.
Bunuh diri eksistensial atas tokoh penyelengara Negara menjadi hidangan rutin di media masa. Ada banyak nama yang terkubur dengan batu nisan “koruptor”. Negeri ini pun (berpeluang) menjelma jadi kuburan nama baik, kehormatan, harga diri dan martabat dari banyak tokoh nasional yang gagal melawan godaan korupsi.
            Tidak ada jaminan apapun terkait pejabat public yang memiliki kekayaan melimpah lantas tidak mencuri duit rakyat. Korupsi lebih erat berhubungan dengan kesentosaan dan mutu mentalitas manusia yang memiliki rasa cukup. Mereka para penyelenggara Negara yang memiliki rasa cukup cenderung selamat dari jerat godaan korupsi. Sikap moral yang terkandung di dalam rasa cukup mendorong manusia berdamai dengan dirinya sendiri. Pertarungan melawan segala godaan berupa pamrih material pun selalu dimenanginya.
            Akur dengan diri sendiri lahir dari pergulatan nilai moral yang berlangsung sengit di dalam batin manusia. Manusia yang selalu melihat keatas (dalam konteks kepemilikan material) selalu merasa kurang atas apa yang sudah digenggamnya. Akibatnya manusia selalu mencari dan mengambil secara material demi memenuhi kepuasan yang tanpa ujung. Manusia pun menderita kemiskinan mental dan spiritual, meski depositonya tak terhitung dan kekayaannya super melimpah. Tetap saja mereka merasa sebagai orang kere. Duit dan segala bentuk material menjadi obsesi yang takkan pernah berhenti. Kurangnya rasa bersyukur juga mempengaruhi terhadap mental dan spiritual seseorang. Pun rasa takut miskin ikut andil besar atas maraknya kegiatan korupsi di negeri kita ini. Seperti keinginan berbagi yang sekarang kian dihindari karena takut hartanya berkurang.
            Kekayaan Eksistensial
            Kekayaan adalah himpunan nilai yang menjadi modal bagi manusia melakukan pembudayaan dan pemberadaban diri. Dalam konteks ideaslisasi otomatis orang kaya selalu berbudaya dan beradab. Berbudaya, karena dengan kekayaannya seseorang berpeluang melakuakn berbagai perubahan mental dan spiritual demi mendapatkan kejayaan eksistensial. Beradab, karena dengan nilai-nilai budaya itu manusia memiliki etika dan etos daya cipta tinggi sehingga berkemuliaan hidup.
            Terkait kemuliaan hidup tersebut, inti problem manusia terbesar tercakup dalam lima hal mendasar: etika, logika, saintika, estetika, dan keterampilan teknis. Etika manyuruh manusia berorientasi pada kebaikan moral. Logika mengharuskan manusia untuk bisa rasional dan obyektif. Saintika mendorong manusia memiliki kecukupan ilmu dan pengetahuan agar ekspresi dan aktualisasi dirinya selalu kontekstual-fungsional. Estetika menuntun manusia pada keindahan, kehalusan budi pekerti dan kesantunan prilaku. Adapun keterampilan teknis berhubungan dengan upaya mewujudkan kreativitas, karena kewajiban manusia ialah belajar sepanjang hayat.
            Keterpurukan negeri ini secara kebudayaan dan peradaban salah satunya disebabkan sedikitnya kehadiran manusia “selesai” disetiap lini dan berbagai bidang kehidupan terutama penyelenggara negara, politisi, dan pengusaha.
            Manusia “selesai” ialah manusia yang sukses gemilang mengatasi segala macam godaan duniawi sehingga mampu lahir menjadi manusia baru yang memiliki potensi berupa etika, logika, saintika, estetika, dan keterampilan teknis. Atau juga manusia yang peduli pada kemuliaan hidup dan menghasilkan karya besar kebudayaan demi memperkuat nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
            Kenyataan yang ada adalah manusia masih banyak digelayuti sikap mental “tak pernah merasa cukup” secara serius. Akhirnya peran sosial, politik, dan ekonomi hanya dipahami sebatas wahana perburuan kepentingan dan untung yang berujung pada terpenuhnya obsesi material akibatnya mereka akan bergerak liar, menyeruduk ke segala arah, membobol kantong kekayaan negara hasil pajak, migas, sampai APBN/D.

             Kekuasaan adalah godaan paling manis sekaligus jahat bagi siapa pun. Hanya manusia berkarakter “selalu merasa kurang” yang tergilas menjadi korban. Parahnya, rakyat turut menanggung resiko, padahal tidak menikmati sepeser pun. Indonesia negara yang selamat dan sehat butuh surplus dari para manusia “selesai” yang mampu melampaui kepentingan personalnya. Juga, dari para penyelenggara negara dan politisi yang masih punya rasa malu menumpuk kekayaan sementara rakyat sesak nafas didera kemiskinan dan penderitaan. “Masihkah kalian tega nyolong padahal sudah sangat kaya? Mau ditaruh dimana lagi, coba?”

0 komentar:

Posting Komentar