MANUSIA SELESAI
Oleh: Yazid albusthomi
Publik tak lagi kaget, apalagi menangisi terhadap antiklimaks dalam
dunia karier poloitik seseorang yang sudah terlalu sering terjadi.
Bunuh diri eksistensial atas tokoh penyelengara Negara menjadi hidangan
rutin di media masa. Ada banyak nama yang terkubur dengan batu nisan
“koruptor”. Negeri ini pun (berpeluang) menjelma jadi kuburan nama baik,
kehormatan, harga diri dan martabat dari banyak tokoh nasional yang gagal
melawan godaan korupsi.
Tidak ada jaminan apapun terkait
pejabat public yang memiliki kekayaan melimpah lantas tidak mencuri duit
rakyat. Korupsi lebih erat berhubungan dengan kesentosaan dan mutu mentalitas
manusia yang memiliki rasa cukup. Mereka para penyelenggara Negara yang
memiliki rasa cukup cenderung selamat dari jerat godaan korupsi. Sikap moral
yang terkandung di dalam rasa cukup mendorong manusia berdamai dengan dirinya
sendiri. Pertarungan melawan segala godaan berupa pamrih material pun selalu
dimenanginya.
Akur dengan diri sendiri lahir dari
pergulatan nilai moral yang berlangsung sengit di dalam batin manusia. Manusia
yang selalu melihat keatas (dalam konteks kepemilikan material) selalu merasa
kurang atas apa yang sudah digenggamnya. Akibatnya manusia selalu mencari dan
mengambil secara material demi memenuhi kepuasan yang tanpa ujung. Manusia pun
menderita kemiskinan mental dan spiritual, meski depositonya tak terhitung dan
kekayaannya super melimpah. Tetap saja mereka merasa sebagai orang kere. Duit dan segala bentuk material menjadi
obsesi yang takkan pernah berhenti. Kurangnya rasa bersyukur juga mempengaruhi
terhadap mental dan spiritual seseorang. Pun rasa takut miskin ikut andil besar
atas maraknya kegiatan korupsi di negeri kita ini. Seperti keinginan berbagi yang
sekarang kian dihindari karena takut hartanya berkurang.
Kekayaan
Eksistensial
Kekayaan adalah himpunan nilai yang menjadi modal bagi manusia
melakukan pembudayaan dan pemberadaban diri. Dalam konteks ideaslisasi otomatis
orang kaya selalu berbudaya dan beradab. Berbudaya, karena dengan kekayaannya
seseorang berpeluang melakuakn berbagai perubahan mental dan spiritual demi
mendapatkan kejayaan eksistensial. Beradab, karena dengan nilai-nilai budaya
itu manusia memiliki etika dan etos daya cipta tinggi sehingga berkemuliaan
hidup.
Terkait kemuliaan hidup tersebut,
inti problem manusia terbesar tercakup dalam lima hal mendasar: etika, logika,
saintika, estetika, dan keterampilan teknis. Etika manyuruh manusia
berorientasi pada kebaikan moral. Logika mengharuskan manusia untuk bisa
rasional dan obyektif. Saintika mendorong manusia memiliki kecukupan ilmu dan
pengetahuan agar ekspresi dan aktualisasi dirinya selalu
kontekstual-fungsional. Estetika menuntun manusia pada keindahan, kehalusan
budi pekerti dan kesantunan prilaku. Adapun keterampilan teknis berhubungan
dengan upaya mewujudkan kreativitas, karena kewajiban manusia ialah belajar
sepanjang hayat.
Keterpurukan negeri ini secara
kebudayaan dan peradaban salah satunya disebabkan sedikitnya kehadiran manusia
“selesai” disetiap lini dan berbagai bidang kehidupan terutama penyelenggara
negara, politisi, dan pengusaha.
Manusia “selesai” ialah manusia yang
sukses gemilang mengatasi segala macam godaan duniawi sehingga mampu lahir
menjadi manusia baru yang memiliki potensi berupa etika, logika, saintika,
estetika, dan keterampilan teknis. Atau juga manusia yang peduli pada kemuliaan
hidup dan menghasilkan karya besar kebudayaan demi memperkuat nilai-nilai
keadilan dan kemanusiaan.
Kenyataan yang ada adalah manusia masih
banyak digelayuti sikap mental “tak pernah merasa cukup” secara serius.
Akhirnya peran sosial, politik, dan ekonomi hanya dipahami sebatas wahana
perburuan kepentingan dan untung yang berujung pada terpenuhnya obsesi material
akibatnya mereka akan bergerak liar, menyeruduk ke segala arah, membobol
kantong kekayaan negara hasil pajak, migas, sampai APBN/D.
Kekuasaan adalah godaan paling manis sekaligus
jahat bagi siapa pun. Hanya manusia berkarakter “selalu merasa kurang” yang
tergilas menjadi korban. Parahnya, rakyat turut menanggung resiko, padahal
tidak menikmati sepeser pun. Indonesia negara yang selamat dan sehat butuh
surplus dari para manusia “selesai” yang mampu melampaui kepentingan personalnya.
Juga, dari para penyelenggara negara dan politisi yang masih punya rasa malu
menumpuk kekayaan sementara rakyat sesak nafas didera kemiskinan dan
penderitaan. “Masihkah kalian tega nyolong padahal sudah sangat kaya?
Mau ditaruh dimana lagi, coba?”






0 komentar:
Posting Komentar