Recent Posts

Rabu, 02 Maret 2016

VIRUS FILM ANAK JALANAN BAGI REMAJA



REMAJA ISLAM TERANCAM FILM ANAK JALANAN
Sejak maraknya film-film remaja yang bertemakan cinta semacam ANAK JALANAN, SANG PANGERAN, Go BMK, BALVEER, KATAKAN PUTUS dan Ftv lainnya di sejumlah stasiun televis lokal, kini remaja islam indonesia telah banyak terkontaminasi virusnya, mengidolakan pemainnya, meniru penampilannya, pakaian dan kata-katanya, terlebih di sinetron Anak Jalanan, dimana para pemainnya mayoritas berwajah tampan dan rupawan sehingga ketika mereka sedang jumpa fans di sebuah acara, antusiame sebagian masyarakat utamanya kawla muda tampak terlalu berlebihan dan sangat lebay.
                        Pucuk dicinta ulampun tiba. Pihak setasiun televisi terlihat semakin menyambut antusias masyarakat dan terus menaikkan ranting film-film tersebut. Semisal dengan mendatangkan  artis pendatang baru yang memiliki bodi mapan dan wajah yang rupawan yang menghiasi layar telivisi untuk bermain film yang bertajuk pergaulan bebas dan percintaan non islami. Sementara itu sangat jarang sekali film yang menayangkan nuansa islami atau sejarah sejarah para sahabat atau perjuangan pahlawan kemerdekaan. Sehingga sangat wajar sekali jika hati nurani kita bertanya-tanya, “apa yang sedang terjadi”.
DAMPAK NEGATIF
            Maka benar sekali, setelah pemutaran sinetron film-film tersebut dalam jangka cukup lama, umat islam, khususnya kawla muda generasi islam mulai mengalami dampak negatifnya. Memang benar, pada akhirnya film-film tersebut sama sekali tidaklah mendidik, percintaan, kekerasan dan sensual. Parahnya lagi di sinetron “Anak jalanan” di anggap telah mempengaruhi gaya hidup dan pergaulan remaja islam. Melalui pemutaran sinetron ini remaja muslimin di buat berhayal, hidup gelamor, balap liar dan bertengkar.
            Dalam kasus Anak jalanan, kritik dari sebagian pemirsa muslimin di arahkan pada adegan di episode penayangan 26, 27, 28, 31 Desember 2015 dan 3 Januari 2016 terdapat adegan yang tidak layak tayang karena menayangkan adegan kekerasan dan sensual, di episode penayangan 26 Desember 2015 ditemukan adegan seorang remaja wanita mencium  pipi pasangannya, dan di episode penayangan 31 Desember 2015 menampilkan adegan pengeroyokan oleh sekelompok geng motor terhadap seorang pria hingga membuatnya jatuh pingsan. Selain hal itu, di sinetron tersebut juga bermunculan kata-kata rasis, dan kotor semisal begog, tolol, cocok dan lain sebagainya.
            Sosok Stefean william yang bermain sebagai Boy di film tersebut, dia berperan sebagai anak remaja dan anak sekolah penghobi balapan melalui sepeda motor sportnya dan juga Natasya willona yang bermain sebagai Reva, sosok yang sangat ingin berpacaran dengan boy, sampai-sampai dia tidak akan berpacaran dengan orang lain sebelum berpacaran dengan boy.
            Selanjutnya dalam reality show Katakan putus,, dampak negatifnya bagi remaja islam lebih besar dan sangat membahayakan sekali. Reality show Kataka putus yang di disain dalam format penggledahan dan pengintaian terhadap remaja yang bermain cinta secara tersembunyi atau kata lainnya melakukan perselingkuhan, membuat para remaja muslim penasaran dan ingin tarus menikmati setiap episodenya. Reality show itu seolah-olah menayangkan dan mengajak remaja muslim kita untuk berpacaran, melakukan perselingkuhan sekaligus mengenalkan budaya hidup kebarat-barattan. Fakta terbaru mengatakan bahwa sebenarnya acara reality show Katakan putus itu merupakan hasil settingan dimana seluruh adegan yang ditampilkan di acara tersebut yang seolah-olah terlihat nyata, ternyata semua sudah di persiapkan sebelumnya.
            Maka, kini kita harus mulai bertanya kepada diri kita sendiri: Akankah remaja-remaja muslim ini lebih ingin hidup dengan budaya pacaran, geng-gengan, dan kekerasan ketimbang hidup dengan apa yang telah Rasul contohkan kepada sahabatnya dan para penerusnya? Bagaimanapun ini merupak ancaman yang sangat serius bagi remaja Islam, sekali lagi budaya kehidupan remaja islam kita sedang dalam ancaman. Ternyata di balik film yang ditayangkan secara ‘vulgar’ dan tampak nyata dan modern itu, ada dampak dan pengaruh negatif yang tidak sederhana, yang tentu saja nantinya akan memeberikan bahaya bagi remaja islam.
               Kenapa di Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini, tayangan-tayangan televisinya kok malah menampilkan film berbudaya barat? Tentunya dari peristiwa tersebut harus di berikan respon yang kreatif, dan inovatif dengan memperkuat dan meningkatkan kualitas inti di industri pertelevisian Indonesia. Dan tentunya kita juga bermuhasabah diri sendiri, jika orang orang umum dan awam disana mampu menyuguhkan pergaulan dan budaya yang di format dengan berbentuk film dan reality show secara non islami, lantas kenapa umat dan remaja islam tidak bisa membuat budaya dan pergaulan sesuai ajaran islam menjadi menarik dengan di suguhkan dengan format yang sama juga?

0 komentar:

Posting Komentar