REMAJA ISLAM TERANCAM FILM ANAK JALANAN
Sejak maraknya film-film remaja yang
bertemakan cinta semacam ANAK JALANAN, SANG PANGERAN, Go BMK, BALVEER, KATAKAN
PUTUS dan Ftv lainnya di sejumlah stasiun televis lokal, kini remaja islam
indonesia telah banyak terkontaminasi virusnya, mengidolakan pemainnya, meniru
penampilannya, pakaian dan kata-katanya, terlebih di sinetron Anak Jalanan,
dimana para pemainnya mayoritas berwajah tampan dan rupawan sehingga ketika
mereka sedang jumpa fans di sebuah acara, antusiame sebagian masyarakat
utamanya kawla muda tampak terlalu berlebihan dan sangat lebay.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Pihak
setasiun televisi terlihat semakin menyambut antusias masyarakat dan terus
menaikkan ranting film-film tersebut. Semisal dengan mendatangkan artis pendatang baru yang memiliki bodi mapan
dan wajah yang rupawan yang menghiasi layar telivisi untuk bermain film yang
bertajuk pergaulan bebas dan percintaan non islami. Sementara itu sangat jarang
sekali film yang menayangkan nuansa islami atau sejarah sejarah para sahabat
atau perjuangan pahlawan kemerdekaan. Sehingga sangat wajar sekali jika hati
nurani kita bertanya-tanya, “apa yang sedang terjadi”.
DAMPAK NEGATIF
Maka
benar sekali, setelah pemutaran sinetron film-film tersebut dalam jangka cukup
lama, umat islam, khususnya kawla muda generasi islam mulai mengalami dampak
negatifnya. Memang benar, pada akhirnya film-film tersebut sama sekali tidaklah
mendidik, percintaan, kekerasan dan sensual. Parahnya lagi di sinetron “Anak
jalanan” di anggap telah mempengaruhi gaya hidup dan pergaulan remaja islam.
Melalui pemutaran sinetron ini remaja muslimin di buat berhayal, hidup gelamor,
balap liar dan bertengkar.
Dalam kasus Anak
jalanan, kritik dari sebagian pemirsa muslimin di arahkan pada adegan di episode penayangan 26, 27, 28, 31 Desember 2015 dan 3
Januari 2016 terdapat adegan yang tidak layak tayang karena menayangkan adegan
kekerasan dan sensual, di episode penayangan 26 Desember 2015 ditemukan adegan
seorang remaja wanita mencium pipi
pasangannya, dan di episode penayangan 31 Desember 2015 menampilkan adegan
pengeroyokan oleh sekelompok geng motor terhadap seorang pria hingga membuatnya
jatuh pingsan. Selain hal itu, di sinetron tersebut juga bermunculan kata-kata
rasis, dan kotor semisal begog, tolol, cocok dan lain sebagainya.
Sosok
Stefean william yang bermain sebagai Boy di film tersebut, dia berperan sebagai
anak remaja dan anak sekolah penghobi balapan melalui sepeda motor sportnya dan
juga Natasya willona yang bermain sebagai Reva, sosok yang sangat ingin
berpacaran dengan boy, sampai-sampai dia tidak akan berpacaran dengan orang
lain sebelum berpacaran dengan boy.
Selanjutnya
dalam reality show Katakan putus,, dampak negatifnya bagi remaja islam
lebih besar dan sangat membahayakan sekali. Reality show Kataka putus yang
di disain dalam format penggledahan dan pengintaian terhadap remaja yang
bermain cinta secara tersembunyi atau kata lainnya melakukan perselingkuhan, membuat
para remaja muslim penasaran dan ingin tarus menikmati setiap episodenya.
Reality show itu seolah-olah menayangkan dan mengajak remaja muslim kita untuk
berpacaran, melakukan perselingkuhan sekaligus mengenalkan budaya hidup
kebarat-barattan. Fakta terbaru mengatakan bahwa sebenarnya acara reality show Katakan
putus itu merupakan hasil settingan dimana seluruh adegan yang ditampilkan
di acara tersebut yang seolah-olah terlihat nyata, ternyata semua sudah di
persiapkan sebelumnya.
Maka,
kini kita harus mulai bertanya kepada diri kita sendiri: Akankah remaja-remaja
muslim ini lebih ingin hidup dengan budaya pacaran, geng-gengan, dan kekerasan
ketimbang hidup dengan apa yang telah Rasul contohkan kepada sahabatnya dan
para penerusnya? Bagaimanapun ini merupak ancaman yang sangat serius bagi
remaja Islam, sekali lagi budaya kehidupan remaja islam kita sedang dalam
ancaman. Ternyata di balik film yang ditayangkan secara ‘vulgar’ dan tampak
nyata dan modern itu, ada dampak dan pengaruh negatif yang tidak sederhana,
yang tentu saja nantinya akan memeberikan bahaya bagi remaja islam.
Kenapa
di Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini, tayangan-tayangan
televisinya kok malah menampilkan film berbudaya barat? Tentunya dari
peristiwa tersebut harus di berikan respon yang kreatif, dan inovatif dengan memperkuat
dan meningkatkan kualitas inti di industri pertelevisian Indonesia. Dan
tentunya kita juga bermuhasabah diri sendiri, jika orang orang umum dan awam
disana mampu menyuguhkan pergaulan dan budaya yang di format dengan berbentuk
film dan reality show secara non islami, lantas kenapa umat dan remaja islam
tidak bisa membuat budaya dan pergaulan sesuai ajaran islam menjadi menarik
dengan di suguhkan dengan format yang sama juga?







0 komentar:
Posting Komentar