“MATAHARI”
Allah
menciptakan semua ini pasti ada hikmah terpendam di dalamnya. Yang seandainya kita
mau memikirkan ciptaan Allah atau lebih familiar dengan istilah men-tadabburi,
tafakkur terhadap fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Maka kita
akan menemukan beberapa ilmu dari fenomena itu sendiri.
Pada kesempatan kal
i ini, kami ingin
berbagi pengetahuan, dari hasil pengamatan kami terhadap fenomena alam, yakni
yang kami maksud adalah Matahari.
Adalah sebuah petuah sederhana dari
Ayah kami, namun memiliki makna yang super indah. Beliau berkata: “Melaku na
ndi wae niatono ndolek ilmu.” (Kemana saja, niati mencari ilmu). Petuah ini
kami terima bukan langsung dari beliau, namun dari Kakak beliau yakni Bibi kami.
Darinyalah, ghirah untuk tadabbur terhadap apa saja fenomena yang terjadi,
menjadi suatu hal yang sangat penting dan sangat perlu kami lakukan, karena
Allah sendiri menyuruh kita untuk belajar, dengan pada mulanya nabi kita yang
dijadikan khithab-nya. Allah berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
“Bacalah
(belajarlah)! Dengan menyebut nama Allah.” (QS. Al Alaq: 1)
Ayat tersebut memiliki mafhum al
ayat, bahwa Allah memerintahkan untuk belajar apa saja (karena di situ
tidak menyebutkan maf’ul, atau menyebutkan ilmu apa yang harus
dipelajari) namun dengan tetap menyandarkan semuanya pada Allah. Artinya,
dengan tidak lupa bahwa semuanya (ilmu) yang kita pelajari tujuannya adalah
demi Agama Allah (Islam) dan demi mencari Ridla Allah.
Petuah sederhana dari Ayah kami, ternyata
merupakan mafhum al ayat dari firman Allah yang berbunyi:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا
كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ
“Katakanlah!
Berjalanlah kalian di bumi, dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan
(manusia).” (QS. Al Ankabut: 20)
Matahari, dengan berbagai macam
manfaat dan fungsinya, namun kebanyakan manusia lebih menganak tirikannya,
karena dinilai menyebabkan panas, kekeringan, kebakaran hutan dan lain
sebagainya. Namun di samping itu semua, ternyata ada hikmah
yang bisa kita petik sebagai pembelajaran bagi kita semua agar menjadi Muslim
sejati. Hikmah itu lebih tepatnya diperuntukkan bagi kita yang pastinya akan
menjadi pemimpin, atau yang saat ini menyandang amanah sebagai pemimpin. Di
antara hikmah itu ialah:
Pertama :
Sebagai pusat Tata Surya. Sebagai pusat tata surya, itu
berarti pemimpin dari benda-benda langit yang berada dalam ruang lingkup galaxy
tersebut. Sebagai pemimpin pastinya ia memiliki otoritas terhadap bawahannya.
Namun itu tidak berarti ia punya hak untuk bersikap rezim atau otoriter, atau
berbuat semena-mena terhadap rakyatnya. Ingatlah bahwa baik itu pemimpin
Negara, atau apapun itu, tetaplah sama-sama makhluk hidup. Masing-masing
memiliki hak dan kewajiban terhadap yang lain. Ingat hadits nabi bahwa setiap
hak itu berarti ada kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Yang
redaksinya sebagai berikut:
مَنْ
لَايَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
“Siapa
yang tidak rahmat (kasih-sayang) niscaya ia tidak akan dirahmati.”
(HR. Muttafaq Alaih)
Dalam hadits tersebut, nabi
mengingatkan kita agar senantiasa memenuhi kewajiban kita terlebih dahulu
sebelum menuntut hak kita. Begitupun dengan seorang pemimpin. Haruslah ingat
selalu apa kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menuntut
rakyatnya melakukan apa yang menjadi hak pemimpin, yakni ditaati oleh
rakyatnya. Nabi bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ...
“Ingatlah!
Bahwa kalian adalah pengembala (pengurus/pemimpin), dan kalian memiliki
tanggung jawab terhadap rakyat (yang diurus).”
(HR.
Muttafaq Alaih)
Kedua :
Menyinari semua yang berada di sekitarnya. Bersikap adil
terhadap rakyatnya. Sebagai pemimpin haruslah memperhatikan rakyatnya seberapa
jauh rakyatnya. Kita sebagai pemimpin, baik yang sedang menyandang maupun yang
pastinya kelak menjadi pemimpin. Haruslah meniru bagaimana nabi kita bersikap
adil kepada rakyatnya, baik dalam hal ketegasan, maupun kelembutan. Contoh
ketegasan nabi yang tidak pandang bulu, adalah di saat ada seorang perempuan
terhormat dari Bani Makdzum telah mencuri, para sahabat meminta bantuan kepada Usamah
bin Zaid, yang merupakan cucu angkat kesayangan nabi, agar meminta nabi
meringankan hukuman bagi perempuan terhormat tersebut. Namun ternyata nabi
marah besar, dan bersabda:
...لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ
لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“…Seaindainya
bila Fatimah binta Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.”
(HR.
Muttafaq Alaih)
Pemimpin
yang adil, adalah pemimpin yang sangat diidamkan-idamkan seluruh lapisan
masyarakat. Adil dalam segala hal, dan adil terhadap seluruh lapisan masyarakat,
bagaimanapun background-nya. Pemimpin adil sangat diapresiasi oleh nabi,
ini termaktub dalam keempat kitab hadits yang telah diakui dengan tinta emas,
yang berada di urutan pertama dari tujuh golongan yang diapresiasi oleh Allah
dan nabi. Nabi bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ...
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi di
dalam naungan-Nya, di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam
Adil…”
(HR.
Bukhari, Tirmidzi, Nasa’I dan Malik)
Ketiga : Selalu memancarkan sinar. Mencurahkan
semua waktu dan tenaganya demi kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin idaman adalah pemimpin yang seluruh waktunya dicurahkan demi
kemaslahatan rakyatnya. Bukan pemimpin yang malah menikmati jabatannya,
berfoya-foya, bermegah-megahan dengan harta rakyatnya.
Sebagai pemimpin hendaknya meniru
gaya memimpin Amir al Mu’minin Umar bin al Khatthab. Yang dikisahkan ketika
berjalan di tengah malam. Beliau mendapati seorang ibu yang sedang memasak, dan
anaknya yang menangis. Ternyata si anak menangis karena kelaparan, sedangkan
ibunya tidak memiliki sembako untuk dimasak, sehingga ia memasak batu. Karena
itulah beliau langsung kembali guna mengambil sembako untuk diberikan ke ibu
tadi. Dan perlu diambil pelajaran dari kisah tersebut; pertama adalah kepeduliannya,
perhatiannya, dan kasih sayangnya terhadap rakyatnya, sehingga beliau
mencurahkan waktunya hanya demi rakyatnya. dan yang kedua adalah ketawadlu’an
beliau dengan membawa sembako tersebut dengan memikulnya sendiri, bukan
memerintahkan bawahannya.
Semoga kita semua dapat mengambil
pelajaran dari ibrah yang tersirat dari Matahari, yang kebanyakan dari kita
hanya menganggapnya sebagai penyebab kemarau panjang, kekeringan, kebakaran
hutan. Ternyata menyimpan pelajaran berharga bagi kehidupan kita. Dan semoga
kita juga dapat mengambil hikmah dari kisah-kisah yang telah disebutkan di
atas.
Wallâhu
A’lam bi ash Shawâb…







0 komentar:
Posting Komentar