Recent Posts

Jumat, 03 Maret 2017

IBRAH MATAHARI



BELAJAR DARI FENOMENA ALAM
 “MATAHARI”
            Allah menciptakan semua ini pasti ada hikmah terpendam di dalamnya. Yang seandainya kita mau memikirkan ciptaan Allah atau lebih familiar dengan istilah men-tadabburi, tafakkur terhadap fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Maka kita akan menemukan beberapa ilmu dari fenomena itu sendiri.
            Pada kesempatan kal i ini, kami ingin berbagi pengetahuan, dari hasil pengamatan kami terhadap fenomena alam, yakni yang kami maksud adalah Matahari.
            Adalah sebuah petuah sederhana dari Ayah kami, namun memiliki makna yang super indah. Beliau berkata: “Melaku na ndi wae niatono ndolek ilmu.” (Kemana saja, niati mencari ilmu). Petuah ini kami terima bukan langsung dari beliau, namun dari Kakak beliau yakni Bibi kami. Darinyalah, ghirah untuk tadabbur  terhadap apa saja fenomena yang terjadi, menjadi suatu hal yang sangat penting dan sangat perlu kami lakukan, karena Allah sendiri menyuruh kita untuk belajar, dengan pada mulanya nabi kita yang dijadikan khithab-nya. Allah berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
Bacalah (belajarlah)! Dengan menyebut nama Allah.” (QS. Al Alaq: 1)
            Ayat tersebut memiliki mafhum al ayat, bahwa Allah memerintahkan untuk belajar apa saja (karena di situ tidak menyebutkan maf’ul, atau menyebutkan ilmu apa yang harus dipelajari) namun dengan tetap menyandarkan semuanya pada Allah. Artinya, dengan tidak lupa bahwa semuanya (ilmu) yang kita pelajari tujuannya adalah demi Agama Allah (Islam) dan demi mencari Ridla Allah.
             Petuah sederhana dari Ayah kami, ternyata merupakan mafhum al ayat dari firman Allah yang berbunyi:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ
Katakanlah! Berjalanlah kalian di bumi, dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan (manusia).” (QS. Al Ankabut: 20)
            Matahari, dengan berbagai macam manfaat dan fungsinya, namun kebanyakan manusia lebih menganak tirikannya, karena dinilai menyebabkan panas, kekeringan, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Namun di samping itu semua, ternyata ada hikmah yang bisa kita petik sebagai pembelajaran bagi kita semua agar menjadi Muslim sejati. Hikmah itu lebih tepatnya diperuntukkan bagi kita yang pastinya akan menjadi pemimpin, atau yang saat ini menyandang amanah sebagai pemimpin. Di antara hikmah itu ialah:
Pertama          : Sebagai pusat Tata Surya. Sebagai pusat tata surya, itu berarti pemimpin dari benda-benda langit yang berada dalam ruang lingkup galaxy tersebut. Sebagai pemimpin pastinya ia memiliki otoritas terhadap bawahannya. Namun itu tidak berarti ia punya hak untuk bersikap rezim atau otoriter, atau berbuat semena-mena terhadap rakyatnya. Ingatlah bahwa baik itu pemimpin Negara, atau apapun itu, tetaplah sama-sama makhluk hidup. Masing-masing memiliki hak dan kewajiban terhadap yang lain. Ingat hadits nabi bahwa setiap hak itu berarti ada kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Yang redaksinya sebagai berikut:
مَنْ لَايَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
Siapa yang tidak rahmat (kasih-sayang) niscaya ia tidak akan dirahmati.”
(HR. Muttafaq Alaih)
            Dalam hadits tersebut, nabi mengingatkan kita agar senantiasa memenuhi kewajiban kita terlebih dahulu sebelum menuntut hak kita. Begitupun dengan seorang pemimpin. Haruslah ingat selalu apa kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menuntut rakyatnya melakukan apa yang menjadi hak pemimpin, yakni ditaati oleh rakyatnya. Nabi bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ...
Ingatlah! Bahwa kalian adalah pengembala (pengurus/pemimpin), dan kalian memiliki tanggung jawab terhadap rakyat (yang diurus).
(HR. Muttafaq Alaih)
Kedua             : Menyinari semua yang berada di sekitarnya. Bersikap adil terhadap rakyatnya. Sebagai pemimpin haruslah memperhatikan rakyatnya seberapa jauh rakyatnya. Kita sebagai pemimpin, baik yang sedang menyandang maupun yang pastinya kelak menjadi pemimpin. Haruslah meniru bagaimana nabi kita bersikap adil kepada rakyatnya, baik dalam hal ketegasan, maupun kelembutan. Contoh ketegasan nabi yang tidak pandang bulu, adalah di saat ada seorang perempuan terhormat dari Bani Makdzum telah mencuri, para sahabat meminta bantuan kepada Usamah bin Zaid, yang merupakan cucu angkat kesayangan nabi, agar meminta nabi meringankan hukuman bagi perempuan terhormat tersebut. Namun ternyata nabi marah besar, dan bersabda:
...لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“…Seaindainya bila Fatimah binta Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.
(HR. Muttafaq Alaih)
            Pemimpin yang adil, adalah pemimpin yang sangat diidamkan-idamkan seluruh lapisan masyarakat. Adil dalam segala hal, dan adil terhadap seluruh lapisan masyarakat, bagaimanapun background-nya. Pemimpin adil sangat diapresiasi oleh nabi, ini termaktub dalam keempat kitab hadits yang telah diakui dengan tinta emas, yang berada di urutan pertama dari tujuh golongan yang diapresiasi oleh Allah dan nabi. Nabi bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ...
Tujuh golongan yang akan Allah naungi di dalam naungan-Nya, di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam Adil…
(HR. Bukhari, Tirmidzi, Nasa’I dan Malik)
Ketiga              : Selalu memancarkan sinar. Mencurahkan semua waktu dan tenaganya demi kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin idaman adalah pemimpin yang seluruh waktunya dicurahkan demi kemaslahatan rakyatnya. Bukan pemimpin yang malah menikmati jabatannya, berfoya-foya, bermegah-megahan dengan harta rakyatnya.
            Sebagai pemimpin hendaknya meniru gaya memimpin Amir al Mu’minin Umar bin al Khatthab. Yang dikisahkan ketika berjalan di tengah malam. Beliau mendapati seorang ibu yang sedang memasak, dan anaknya yang menangis. Ternyata si anak menangis karena kelaparan, sedangkan ibunya tidak memiliki sembako untuk dimasak, sehingga ia memasak batu. Karena itulah beliau langsung kembali guna mengambil sembako untuk diberikan ke ibu tadi. Dan perlu diambil pelajaran dari kisah tersebut; pertama adalah kepeduliannya, perhatiannya, dan kasih sayangnya terhadap rakyatnya, sehingga beliau mencurahkan waktunya hanya demi rakyatnya. dan yang kedua adalah ketawadlu’an beliau dengan membawa sembako tersebut dengan memikulnya sendiri, bukan memerintahkan bawahannya.
            Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari ibrah yang tersirat dari Matahari, yang kebanyakan dari kita hanya menganggapnya sebagai penyebab kemarau panjang, kekeringan, kebakaran hutan. Ternyata menyimpan pelajaran berharga bagi kehidupan kita. Dan semoga kita juga dapat mengambil hikmah dari kisah-kisah yang telah disebutkan di atas.
Wallâhu A’lam bi ash Shawâb…


0 komentar:

Posting Komentar