robetmuhammad7@gmail.comBANTAHAN BAGI PARA LIBERALIS-PLURALIS-SEKULARIS
OLEH: ROBITULHUDA MUCHLAS
Al
Auliya': bentuk jama' dari Al Wali:
1.
Kita
lihat dari bentuk kata fi'il hingga isim (mashdar). Artinya kita tasrif dengan metode Sharaf Istilahi;
وَلِيَ
يَلِيْ وِلَايَةً / وَلَايَةً : الْحُكْمُ والسُّلْطَانُ. Pemerintahan
2.
Kita lihat bentuk Fa'il darinya:
الْوَليُّ
(ج أَوْلِيَاءُ) : المحبّ Yang mencintai
-
: الصّديق Teman, sahabat
-
: النّصير
Yang menolong
-
: من ولي أمر أحد Orang yang mengurus perkara seseorang, wali
الوليُّ
: الجار Tetangga
-
: الحليف
Sekutu
-
: التابع
Pengikut
وليُّ العهد Putera mahkota
- اليتيم Pengasuh anak yatim
أولياء الأمر : الحكّام Para
penguasa
Teman:
1.
Versi Kamus Bahasa Indnesia Bergambar, hal: 846 & Versi Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hal:
355: kawan; sahabat; orang yang bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan);
lawan (bercakap-cakap).
"Dari pengertian Al Waliy dan
Teman, jika memang ia mengartikan sebagai teman, dan menolak bahwa yang
dilarang Al Qur'an adalah melarang menjadikan orang kafir Yahudi dan Nasrani
sebagai pemimpin, dan ia mengatakan bahwa yang dilarang adalah menjadikannya
teman, berarti IA TELAH TERMAKAN DENGAN PERKATAANNYA SENDIRI. Karena ia
telah menjadikan teman seorang kafir, bahkan MEMBELA MATI-MATIAN PADAHAL YANG DIBELA SELAIN KAFIR, IA JUGA
SALAH."
Ini sangat-sangat lucu.
Namun setelah diteliti arti Al Wali,
ternyata artinya PENGUASA, PEMIMPIN, PENGURUS URUSAN ORANG. Apa masih
bisa dikatakan Ulama' salah menafsirkan? Padahal jelas, artinya memang
pemimpin. Namun bisa juga diartikan teman.
Jadi intinya, PERKATAAN IA SANGAT
SALAH BESAR, TIDAK ARGUMENTATIVE. SEMAKIN IA MEMBANTAH, SEMAKIN KELIHATAN BAHWA
IA SALAH BESAR.
Tafsir:
ULAMA' TIDAK BERHAK MENAFSIRI AL
QUR'AN. Yang berhak menafsiri hanyalah Allah Swt. dan Rasulullah Saw.
Namun anehnya, saat ada yang
menafsiri Al Qur'an, yang notabene ia adalah teman atau yang didukungnya kenapa
ia malah bilang kalau AL QUR'AN ITU MULTI-TAFSIR?
Ini semua lucu.
Khairul Qurun
Qarni…..:
Lebih
saleh siapa Khalifah ke-16 Daulah Abbasiyah dengan Ulama'-ulama' setelahnya?
Kok berani melarang memilih Pemimpin Kafir?
Saya
tidak perlu berpanjang lebar. Hanya ingin mencamtumkan riwayat dari Umar bin
Khatab radhiyallahu ‘anhu. Dari Sammak bin Harb, dari Iyadh,
أن عمر
أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب
نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر رضي الله عنه وقال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ
لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع أن يدخل المسجد فقال عمر:
أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه” ثم
قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى
أَوْلِيَاءَ...
Umar memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari
untuk melaporkan semua yang diterima dan yang diserahkan dalam satu catatan.
Abu Musa memiliki juru tulis beragama nasrani. Kemudian catatan itu diserahkan.
Dan Umar radhiyallahu ‘anhu terheran, beliau mengatakan, “Ini sangat
rinci.” Lalu beliau meminta,
“Apakah nanti di masjid, kamu bisa membacakan untuk kami,
surat yang datang dari Syam?”
Abu Musa mengatakan, “Dia tidak boleh masuk masjid?”
Tanya Umar, “Mengapa? Apakah dia junub?”
“Bukan, dia nasrani.” Jawab Abu Musa.
Umar langsung membentakku dan memukul pahaku, dan
mengatakan, “Keluarkan dia.”
Kemudian beliau membaca firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا
تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa
diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim..”
(QS. Al-Maidah: 51)
Umar melarang, jangan sampai orang kafir menjadi pejabat
yang memiliki posisi di pemerintahan. Sekalipun dia hanya seorang akuntan Negara.
Sekarang saya bertanya, LEBIH SALEH SIAPA, UMAR BIN AL KHATTAB
DENGAN AL MU'TADID BILLAH?
Sangat
dipastikan bahwa sangat lebih mulia Umar bin al Khattab.
SEMOGA ALLAH SENANTIASA MEMBERI AMPUNAN BAGI YANG
BERSANGKUTAN. DAN SEMOGA ALLAH MELIMPAHKAN TAUFIQ, HIDAYAH, SERTA INAYAH-NYA
KEPADA HAMBA-NYA YANG TELAH TERJERUMUS KE JURANG KESESATAN
LIBERALISME-PLURALISME-SEKULARISME AGAMA.
والله
أعلم بالصواب










