Recent Posts

Sabtu, 19 Maret 2016

PERAN ULAMA’ SEBAGAI PEWARIS PARA NABI


إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوْرِثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَثُوْا الْعِلْمَ...(الحديث
 Sesungguhnya para ulama’ itu pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidaklah mewarisi dinar ataupun dirham, melainkan mereka mewarisi ilmu”.
Dari hadits tersebut dapat diambil pelajaran bahwa sesungguhnya problema yang terjadi dan dialami umat islam sekarang adalah tugas yang harus diemban oleh ulama’, karena para nabi telah melaksanakannya. Dan sebagai ulama’ diharuskan meneruskan apa yang dilakukan para nabi. Abdullah bin Abbas ra berkata:
مَا أَتَى اللهُ اَحَدًا عِلْمًا إِلَّا وَأُخِذَ عَلَيْهِ مِنَ الْمِثَاقِ مَا أُخِذَ عَلَى النَّبِيِّيْنَ أَنْ يُبَيِْنَ لِلنَّاسِ وَلَايَكْتُمُوْهُ
Tidaklah Allah SWT memberikan sebuah ilmu kepada seseorang kecuali Allah mengikat perjanjian kepada para nabi agar dia menerangkan ilmu tersebut kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”.
            Dari situlah dapat diketahui bahwa sangatlah mulia tugas ulama’, dikarenakan merekalah yang menempati tugas para nabi di muka bumi ini. Karenanya nabi menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan nabi ialah ulama’. Nabi bersabda:
أَقْرَبُ النَّاسِ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعُلَمَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. أَمَّا الْعُلَمَاءُ  فَدَلُّوْا النَّاسَ عَلَى مَا بُعِثَتْ بِهِ الرُّسُلُ. وَأَمَّا الشُّهَدَاءُ يُقَدِّمُ أَرْوَاحَهُمْ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ.
Orang yang paling dekat dengan para nabi ialah para ulama’ dan syuhada’. Adapun ulama’, mereka memperoleh gelar ini karena mereka memberikan petunjuk kepada manusia tentang apa yang dibawa para nabi. Sementara itu, para syuhada’ mendapat gelar tersebut karena mereka telah mempersembahkan nyawa mereka untuk membela apa yang dibawa para rasul.
            Dari hadits tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa nabi saw menerangkan bahwa poin terpenting yang menjadikan ulama’ layak mendapat derajat yang luhur ialah karena mereka telah memberikan petunjuk kepada umat. Dan dapat kita simpulkan bahwa ulama’ yang derajatnya tinggi bukanlah ulama’ yang menguasai berbagai disiplin ilmu, melainkan ulama’ yang telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membimbing umat dalam menjalani amaliahnya agar sesuai dengan syari’at Allah SWT. Mereka tak hanya pantas menyandang sebagai orang terdekat dengan nabi melainkan mereka juga pantas menyandang orang terbaik versi nabi saw. Sebagaimana sabda nabi:
خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَاَتْقَاهُمْ وَآمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling sering baca al Qur’an, orang yang paling bertaqwa, orang yang amar ma’ruf, orang yang nahi munkar dan orang yang menyambung tali persaudaraan di antara mereka”
Dalam hadits itu, nabi tidak menerangkan secara langsung bahwa ulama’ pantas menyandang status orang terbaik, tapi di situ terdapat suatu perbuatan yang memang seharusnya dilakukan oleh ulama’ yakni amar ma’ruf nahi munkar. Yang mana tugas itulah yang memang seharusnya dilakuakan oleh ulama’ kepada segenap umat, dengan amar ma’ruf yang berarti mereka memberikan atau membimbing umat agar berbuat amaliah yang sesuai dengan syari’at. Dan nahi munkar yang berarti mencegah umat agar tidak melakukan amaliah yang melenceng atau tidak sesuai dengan syari’at, artinya mencegah umat agar tidak melakuakan maksiat.
            Beramar ma’ruf nahi munkar memang merupakan tugas pokok seorang ulama’. Karena itulah dalam mengemban tugas tersebut, harus dibarengi berbagai metode dan strategi jitu. Seorang ulama’ harus selalu aktif mengajak umat ke jalan Allah bukan hanya yang muslim saja melainkan seluruh umat manusia, sebagaimana perintah Allah kepada nabi Musa dan Harun agar senantiasa mengajak Fir’aun, padahal Allah telah menentukan bahwa dia adalah kafir selamanya. Dan metode yang dilakukan nabi ialah bersikap lemah lembut kepada obyek, tak terkecuali mereka yang memusuhi beliau. Sudah sepantasnyalah seorang ulama’ mengikuti metode para nabi tersebut, karena ulama’ adalah pewaris para nabi. Akan tetapi juga menjadi keharusan bagi ulama’, agar senantiasa mengharap anugerah terbaik dari Allah. Karena itulah yang akan menjadi support dalam berdakwah.
            Akan tetapi, penghormatan kepada yang berbeda keyakinan hanya pada urusan muamalah semata. Kita tak boleh melibatkan mereka pada urusan agama. Dan kita tak boleh tinggal diam dengan alasan harus lemah lembut kepada obyek dakwah, jika mereka kaum kafir melecehkan kehormatan islam. Sebaimana yang dilakukan nabi saw ketika seorang yahudi mewlecehkan seorang muslimah, maka Rasulullah saw langsung mengusir yahudi tersebut dari madinah.
            Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita khususnya para ulama’ untuk selalu memperhatikan umat, mengawasi dan menyelamatkan mereka dari segala bahaya zaman. Dan semoga apa yang diajarkan kepada umat ini bersamaan dengan taufiq, hidayah serta inayah dari Allah. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar