إِنَّ الْعُلَمَاءَ
وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوْرِثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا
إِنَّمَا وَرَثُوْا الْعِلْمَ...(الحديث
“Sesungguhnya para ulama’ itu pewaris para
nabi, sesungguhnya para nabi tidaklah mewarisi dinar ataupun dirham, melainkan
mereka mewarisi ilmu”.
Dari hadits tersebut dapat diambil
pelajaran bahwa sesungguhnya problema yang terjadi dan dialami umat islam
sekarang adalah tugas yang harus diemban oleh ulama’, karena para nabi telah
melaksanakannya. Dan sebagai ulama’ diharuskan meneruskan apa yang dilakukan
para nabi. Abdullah bin Abbas ra berkata:
مَا أَتَى
اللهُ اَحَدًا عِلْمًا إِلَّا وَأُخِذَ عَلَيْهِ مِنَ الْمِثَاقِ مَا أُخِذَ عَلَى
النَّبِيِّيْنَ أَنْ يُبَيِْنَ لِلنَّاسِ وَلَايَكْتُمُوْهُ
“Tidaklah Allah SWT memberikan
sebuah ilmu kepada seseorang kecuali Allah mengikat perjanjian kepada para nabi
agar dia menerangkan ilmu tersebut kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”.
Dari situlah dapat diketahui bahwa sangatlah
mulia tugas ulama’, dikarenakan merekalah yang menempati tugas para nabi di
muka bumi ini. Karenanya nabi menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan
nabi ialah ulama’. Nabi bersabda:
أَقْرَبُ
النَّاسِ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعُلَمَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. أَمَّا
الْعُلَمَاءُ فَدَلُّوْا النَّاسَ عَلَى مَا
بُعِثَتْ بِهِ الرُّسُلُ. وَأَمَّا الشُّهَدَاءُ يُقَدِّمُ أَرْوَاحَهُمْ عَلَى مَا
جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ.
“Orang yang paling dekat dengan
para nabi ialah para ulama’ dan syuhada’. Adapun ulama’, mereka memperoleh
gelar ini karena mereka memberikan petunjuk kepada manusia tentang apa yang
dibawa para nabi. Sementara itu, para syuhada’ mendapat gelar tersebut karena
mereka telah mempersembahkan nyawa mereka untuk membela apa yang dibawa para
rasul.”
Dari hadits tersebut, dapat diambil
pelajaran bahwa nabi saw menerangkan bahwa poin terpenting yang menjadikan
ulama’ layak mendapat derajat yang luhur ialah karena mereka telah memberikan
petunjuk kepada umat. Dan dapat kita simpulkan bahwa ulama’ yang derajatnya
tinggi bukanlah ulama’ yang menguasai berbagai disiplin ilmu, melainkan ulama’
yang telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membimbing umat dalam
menjalani amaliahnya agar sesuai dengan syari’at Allah SWT. Mereka tak hanya
pantas menyandang sebagai orang terdekat dengan nabi melainkan mereka juga
pantas menyandang orang terbaik versi nabi saw. Sebagaimana sabda nabi:
خَيْرُ النَّاسِ
أَقْرَؤُهُمْ وَاَتْقَاهُمْ وَآمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ
“Sebaik-baik
manusia adalah orang yang paling sering baca al Qur’an, orang yang paling
bertaqwa, orang yang amar ma’ruf, orang yang nahi munkar dan orang yang
menyambung tali persaudaraan di antara mereka”
Dalam hadits
itu, nabi tidak menerangkan secara langsung bahwa ulama’ pantas menyandang
status orang terbaik, tapi di situ terdapat suatu perbuatan yang memang seharusnya
dilakukan oleh ulama’ yakni amar ma’ruf nahi munkar. Yang mana tugas itulah
yang memang seharusnya dilakuakan oleh ulama’ kepada segenap umat, dengan amar
ma’ruf yang berarti mereka memberikan atau membimbing umat agar berbuat amaliah
yang sesuai dengan syari’at. Dan nahi munkar yang berarti mencegah umat agar
tidak melakukan amaliah yang melenceng atau tidak sesuai dengan syari’at,
artinya mencegah umat agar tidak melakuakan maksiat.
Beramar ma’ruf nahi munkar memang
merupakan tugas pokok seorang ulama’. Karena itulah dalam mengemban tugas
tersebut, harus dibarengi berbagai metode dan strategi jitu. Seorang ulama’
harus selalu aktif mengajak umat ke jalan Allah bukan hanya yang muslim saja
melainkan seluruh umat manusia, sebagaimana perintah Allah kepada nabi Musa dan
Harun agar senantiasa mengajak Fir’aun, padahal Allah telah menentukan bahwa
dia adalah kafir selamanya. Dan metode yang dilakukan nabi ialah bersikap lemah
lembut kepada obyek, tak terkecuali mereka yang memusuhi beliau. Sudah
sepantasnyalah seorang ulama’ mengikuti metode para nabi tersebut, karena
ulama’ adalah pewaris para nabi. Akan tetapi juga menjadi keharusan bagi
ulama’, agar senantiasa mengharap anugerah terbaik dari Allah. Karena itulah
yang akan menjadi support dalam berdakwah.
Akan tetapi, penghormatan kepada
yang berbeda keyakinan hanya pada urusan muamalah semata. Kita tak boleh melibatkan
mereka pada urusan agama. Dan kita tak boleh tinggal diam dengan alasan harus
lemah lembut kepada obyek dakwah, jika mereka kaum kafir melecehkan kehormatan
islam. Sebaimana yang dilakukan nabi saw ketika seorang yahudi mewlecehkan
seorang muslimah, maka Rasulullah saw langsung mengusir yahudi tersebut dari
madinah.
Semoga Allah senantiasa memberikan
kekuatan kepada kita khususnya para ulama’ untuk selalu memperhatikan umat,
mengawasi dan menyelamatkan mereka dari segala bahaya zaman. Dan semoga apa
yang diajarkan kepada umat ini bersamaan dengan taufiq, hidayah serta inayah
dari Allah. Aamiin.






0 komentar:
Posting Komentar