SAATNYA KAUM SANTRI MENGKUDETA KAUM AKADEMIS
Pengambilan judul ini bukan asal-asalan, melainkan karena memang telah menjadi keharusan bagi segenap santri untuk tanggap memberantas persepsi mayoritas orang yang memandang sebelah mata terhadap kalangan santri. Kebanyakan dari merka menganggap kaum santri adalah kawanan manusia kuper, cupu, ketinggalan zaman, hanya bisa baca kitab, tidak tau dunia luar dan lain sebagainya.
Untuk
itulah, diharapkan bagi santri agar menjadikan hal tersebut bukan sebagai halangan
untuk maju, melainkan agar menjadikannya sebagai cambuk untuk maju dan untuk
mengembangkan wawasan keilmuannya.
Sesuai
dengan wahyu Allah yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, kita
senantiasa diperintah untuk banyak membaca. Membaca di sini bukanlah hanya
diperuntukkan untuk membaca (belajar) ilmu agama saja bagi santri, atau hanya
ilmu umum saja bagi para siswa sekolahan formal. Melainkan bebas, baik itu
berupa pelajaran yang berbentuk tekstual atau yang bukan, seperti membaca
keadaan sekitar kita, baik dalam kompleks kita sendiri ataupun yang di luar
kompleks, bahkan luar negeri sekalipun. Wahyu yang pertama turun merupakan motivasi
untuk kita banyak membaca dan mengembangkan wawasan kita.
Wahyu inilah yang menjadi motivasi bagi
sekalian umat agar mengembangkan IPTEK maupun IMTAQ. Karena di situ disebutkan
kata perintah iqra’ yang berarti bacalah, yang mempunyai kandungan makna
agar umat sekalian memperbanyak pengetahuannya demi mengembangkan IPTEKnya.
Tapi tidak putus sampai di situ, karena jika hanya sampai di situ, maka yang
terjadi adalah hilngnya Nur Ilahiyah pada diri mereka. Karena itulah
Allah memberikan metode agar IPTEK dan IMTAQ seimbang, yakni dengan menyebutkan
bismirabbikalladzî khalaq. Dengan kita menyebut dan ingat akan adanya
Allah sebagai sutradara atau dalang dari semua yang kita kerjakan di awal
setiap aktifitas kita, maka akan timbul pada diri kita perasaan, pengakuan dan
persaksian kita bahwa khalaqal insâna min ‘alaq, kita tak akan mampu
melakuakan apapun tanpa kehendak-Nya.
Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan,
yang tak hanya berupa ilmu agama, melainkan SAINSpun dapat ditemukan di
dalamnya. Itu sebabnya banyak ilmuan barat yang telah mengakui keontetikan
Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan. Sebuah keyakinan yang muncul setelah mereka
menemukan sejumlah temuan sains modern yang sesuai dengan kandungan Al-Qur’an. Sebagai
contoh, Simpson adalah salah seorang ilmuan tahun 1980-an yang pernah
mengungkapkan bahwa Al-Qur’an pastilah wahyu Allah karena mampu memprediksi
temuan-temuan modern dalam embrio dan genetika. Padahal Al-Qur’an adalah
catatan abad ke-7 masehi.
Pendeskripsian Al-Qur’an bukanlah bersumber
dari ilmu pengetahuan bad itu. Karena pada zaman itu sudah pasti belum dikenal
mikroskop dan teknologi pengamatan belum berkembang. Masih banyak lagi ilmuan
lain yang merupakan non muslim yang mengakui keotentikan Al-Qur’an.
Kita kaum muslimin, khususnya sebagai kaum
santri, dengan segenap keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an hanya akan
menjadi penonton kebesarannya dan tak akan bisa menjadi aktorpemeran
ajaran-ajarannya di panggung sejarahkalau kita tidak melakukan pengelolaan yang
sistemik dan terprogram.
Berarti mulai detik inilah, tawaran-tawaran
teologis (doktrin keagamaan) harus dibarengi dengan kemauan mengelola sehingga
kandungan Al-Qur’an dan pesan-pesannya benar-benar menjadi wujud nyata dan
dapat membawa penganutnya ke arah cita-cita kesejahteraan dunia akhirat. Dan
jika kita mampu melakukannya, kita tidak hanya mahir dalam bidang keagamaan
semata, melainkan juga mahir di dunia teknologi. Dan kita akan bisa mengkudeta
kesolidan kaum akademis selama ini, karena mereka hanya mahir di dunia
teknologi saja tanpa memperhatikan IMTAQ.






0 komentar:
Posting Komentar