Recent Posts

Selasa, 29 Maret 2016

SAATNYA KAUM SANTRI MENGKUDETA KAUM AKADEMIS

SAATNYA KAUM SANTRI MENGKUDETA KAUM AKADEMIS
            

           Pengambilan judul ini bukan asal-asalan, melainkan karena memang telah menjadi keharusan bagi segenap santri untuk tanggap memberantas persepsi mayoritas orang yang memandang sebelah mata terhadap kalangan santri. Kebanyakan dari merka menganggap kaum santri adalah kawanan manusia kuper, cupu, ketinggalan zaman, hanya bisa baca kitab, tidak tau dunia luar dan lain sebagainya.
            Untuk itulah, diharapkan bagi santri agar menjadikan hal tersebut bukan sebagai halangan untuk maju, melainkan agar menjadikannya sebagai cambuk untuk maju dan untuk mengembangkan wawasan keilmuannya.
            Sesuai dengan wahyu Allah yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, kita senantiasa diperintah untuk banyak membaca. Membaca di sini bukanlah hanya diperuntukkan untuk membaca (belajar) ilmu agama saja bagi santri, atau hanya ilmu umum saja bagi para siswa sekolahan formal. Melainkan bebas, baik itu berupa pelajaran yang berbentuk tekstual atau yang bukan, seperti membaca keadaan sekitar kita, baik dalam kompleks kita sendiri ataupun yang di luar kompleks, bahkan luar negeri sekalipun. Wahyu yang pertama turun merupakan motivasi untuk kita banyak membaca dan mengembangkan wawasan kita.
Wahyu inilah yang menjadi motivasi bagi sekalian umat agar mengembangkan IPTEK maupun IMTAQ. Karena di situ disebutkan kata perintah iqra’ yang berarti bacalah, yang mempunyai kandungan makna agar umat sekalian memperbanyak pengetahuannya demi mengembangkan IPTEKnya. Tapi tidak putus sampai di situ, karena jika hanya sampai di situ, maka yang terjadi adalah hilngnya Nur Ilahiyah pada diri mereka. Karena itulah Allah memberikan metode agar IPTEK dan IMTAQ seimbang, yakni dengan menyebutkan bismirabbikalladzî khalaq. Dengan kita menyebut dan ingat akan adanya Allah sebagai sutradara atau dalang dari semua yang kita kerjakan di awal setiap aktifitas kita, maka akan timbul pada diri kita perasaan, pengakuan dan persaksian kita bahwa khalaqal insâna min ‘alaq, kita tak akan mampu melakuakan apapun tanpa kehendak-Nya.
Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan, yang tak hanya berupa ilmu agama, melainkan SAINSpun dapat ditemukan di dalamnya. Itu sebabnya banyak ilmuan barat yang telah mengakui keontetikan Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan. Sebuah keyakinan yang muncul setelah mereka menemukan sejumlah temuan sains modern yang sesuai dengan kandungan Al-Qur’an. Sebagai contoh, Simpson adalah salah seorang ilmuan tahun 1980-an yang pernah mengungkapkan bahwa Al-Qur’an pastilah wahyu Allah karena mampu memprediksi temuan-temuan modern dalam embrio dan genetika. Padahal Al-Qur’an adalah catatan abad ke-7 masehi.
Pendeskripsian Al-Qur’an bukanlah bersumber dari ilmu pengetahuan bad itu. Karena pada zaman itu sudah pasti belum dikenal mikroskop dan teknologi pengamatan belum berkembang. Masih banyak lagi ilmuan lain yang merupakan non muslim yang mengakui keotentikan Al-Qur’an.
Kita kaum muslimin, khususnya sebagai kaum santri, dengan segenap keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an hanya akan menjadi penonton kebesarannya dan tak akan bisa menjadi aktorpemeran ajaran-ajarannya di panggung sejarahkalau kita tidak melakukan pengelolaan yang sistemik dan terprogram.

Berarti mulai detik inilah, tawaran-tawaran teologis (doktrin keagamaan) harus dibarengi dengan kemauan mengelola sehingga kandungan Al-Qur’an dan pesan-pesannya benar-benar menjadi wujud nyata dan dapat membawa penganutnya ke arah cita-cita kesejahteraan dunia akhirat. Dan jika kita mampu melakukannya, kita tidak hanya mahir dalam bidang keagamaan semata, melainkan juga mahir di dunia teknologi. Dan kita akan bisa mengkudeta kesolidan kaum akademis selama ini, karena mereka hanya mahir di dunia teknologi saja tanpa memperhatikan IMTAQ.

0 komentar:

Posting Komentar