PERANAN AJARAN ISLAM BAGI PENDIDIKAN
Abstrak: Indonesia adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama
islam, bahkan tebesar di dunia. Namun pernahkah kita berfikir, seberapa luas
ajaran Islam yang diajarkan di dalamnya?Baik dalam tatanan kepemerintahan,
lebih-lebih dalam masalah pendidikan. Pendidikan yang diberikan kepada anak
bangsa orientasinya justru terfokus pada nilai-nilai intelektual, tidak
sedikitpun kurikulum yang diterapkan memberi porsi akan pentingnya nilai
spiritual bagi seorang pelajar. Ironisnya, masalah-masalah yang tidak
diharapkan bermunculan, seperti : Kasus perkelahian antar pelajar, free sex
yang mendominan di kalangan pelajar, dekadensi moral, dan sebagainya.
Jika
demikian, perlukah bangsa ini membungkus pendidikan yang ada dengan sendi-sendi
ajaran Islam?, mengingat negeri ini adalah negeri dengan penduduk muslim
terbesar di dunia. Apa efek yang ditimbulkan jika konsep pendidikan islam
diintergrasikan kedalam pendidikan formal?, dan apakah kita masih berdiri kukuh
pada independen kurikulum yang ada, pendidikan formal tetap berjalan sendiri,
sedang pendidikan Islam juga demikian?
Peranan
pendidikan dalam suatu Negara adalah hal yang paling sentral untuk menentukan
keberhasilan negeri tersebut, baik keberhasilan dikancah domestik ataupun
internasional.Pendidikan adalah Dirijen dalam pengaturan ekosisitem
suatu Negara.Ia juga berperan sebagai motivator keberhasilan Negara tersebut.
Tumbuhnya nilai kreatifitas bangsa tak luput dari peran sebuah
pendidikan.Baik-buruknya kondisi ekonomi juga tak lepas dari seberapa jauh
orang-orang yang menjalankan sistem perekonomian bangsa sesuai dengan
sistematik pendidkan yang telah diajarkan dahulu.Munculnya para intelektual
muda juga lekat hubungannya dengan penyerapan pendidikan yang diajarkan,
baik-buruknya nilai moralitas bangsa juga harus ditanyatakan, apakah pendidikan
yang diajarkan sesuai dengan konsep agama dan Negara.Dari sini kita bisa
merambah, bahwa pendidikan adalah sebuah “jantung” Negara yang berperan aktif
didalamnya.Kendati demikian, apakah pendidikan yang ada sekarang memang
betul-betul pas atau sesuai dengan harapan bangsa? Atau justru berbalik arah
480 derajat dari penetapan misi (mission statement) bangsa tersebut?.
Islam
sebagai agama yang kaamil atau sempurna dan fleksibel, telah memberikan
konsep bagaimana seharusnya pendidikan tersebut sesuai dengan harapan dan
dinilai ideal.Nabi Muhammad SAW di samping seorang Rasul, beliau juga berperan
sebagai “Bapak Pendidik” yang sukses mengantarkan murid-muridnya sebagai orang-orang
intelek yang banyak dikenal dunia.Kiprahnya dalam pendidikan, sistem pendidikan
yang diterapkan oleh beliau bersifat konprehensif.
Secara
kongkrit, out put pendidikan rasullullah memiliki jati diri, yaitu
manusia yang berediologi. Beliau menitik-beratkan pendidikan dalam 3 misi
utama, yaitu: Kecerdasan Intelektual, Pembinaan Emosional, dan Pendekatan
Spiritual seseorang. Ketiganya dibina dalam satu wadah dan porsi yang
seimbang.Metode ini ternyata cukup ampuh dan menunjukkan hasil signifikan.Realita
bebicara, jika sebuah pendidikan hanya memprioritaskan pada kualitas
intelektual, maka dampaknya pendidikan tersebut bersifat kognitif dan
mengabaikan sisi efektif. Sedang pendidikan yang hanya fokus pada pendidikan
spiritual, maka ia akan memahami kehidupan tumpang sebelah dan cenderung
bersifat diskriminatif pada fenomena-fenomena yang terjadi.
Jujur
kita katakan, pendidikan yang terealisasi dibangsa ini lebih mengkedepankan
pendidikan intelektual dan mengabaikan pendidikan spiritual.Kurikulum yang ada
hanya senang memunculkan para intelektual muda ketimbang para pemuda atau
pelajar yang bermoral. Ironisnya, Ironisnya, kita
bisa melihat bagaimana di kota-kota besar lain di Indonesia. Selain di
Jabodetabek, data yang sama juga diperoleh di wilayah lain. Di Surabaya
misalnya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54
persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen, belum lagi kasus maraknya razia yang sering
dilakukan aparat terhadap para pelajar yang hobi mbolos atau ngelimput
pada jam-jam sekolah, razia siswa yang membawa “SETAM” (Senjata Tajam), dan
yang tak kalah hebohnya, razia kini diperlebar ke ponsel-ponsel pelajar yang
kini mulai santer diisi dengan foto-foto dan video porno dengan durasi waktu
yang berbeda-beda, dan lain sebagainya.
Apa
yang tercantum diatas adalah satu berita dari satu oknum dengan tipe pelaku
yang hampir sama, dan rentetan peristiwanya terjadi dalam kurun waktu yang
sangat singkat, apa yang telah disaksikan, bisa kita bayangkan bagaimana
bobroknya moralitas pelajar bangsa ini dari tahun ke tahun? Pendidikan yang
sejatinya mencetak generasi-generasi yang idealis dan dinamis, kini hanyalah
sebuah harapan yang terpaku dalam lamunan.Apa yang salah dan apa yang belum
diterapkan kurikulum pendidikan negeri ini, adalah tugas para pengajar dan
pemerintah yang mempunyai andil besar dalam mensukseskan suatu pendidikan.
Jangan sampai bangsa ini dikotori oleh generasi yang tidak “berpendidikan”
serta tak mempunyai etika atau moralitas bahkan norma-norma agama. Ingat!
Negeri ini adalah negeri yang penduduknya beragama Islam dengan jumlah terbesar
di dunia.
Pendidikan
yang ideal adalah pendidikan yang memiliki balance antara pendidikan
intelektual, emosional, dan spiritual. Jika diperlebar, pendidikan bukan hanya
terfokus kepada yang di didik (murid/pelajar) saja, melainkan contoh baik juga
terlebih dahulu dipupuk kepada siapa yang mendidik (guru).Apalah artinya jika
konsep yang telah ditata bagus dalam sebuah kurikulum pendidikan, tetapi
orang-orang yang menjalankannya memberikan image jelek atau kurang baik pada
pendidikan tersebut, dengan kata lain, para pendidik juga harus terdidik dan
berusaha menjadi figure baik pada anak didiknya.







0 komentar:
Posting Komentar