Recent Posts

Senin, 28 Maret 2016

MEMBONGKAR KEBOHONGAN BARAT


KEBOHONGAN BARAT BERDALIH
WAR on TERROR (PERANG MELAWAN TERORISME) atau THE GLOBAL WAR on TERRORISM (PERANG GLOBAL MELAWAN TERORISME)

            The Global War on Terrorism atau yang kelompok lain menyebutnya dengan The Long War (Perang Panjang Terorisme), adalah sebuah istilah tentang kampanye anti teroris yang dipimpin oleh Amerika Serikat pimpinan George W. Bush dan diikuti Negara-negara sekutunya.
            Kamapanye yang dimulai sejak peristiwa runtuhnya menara World Trade Center (WTC) di New York yang disebut dilakukan oleh kelompok Al Qaeda yang menjadi poros utama kebijakan George W. Bush, baik level nasional maupun internasional. Perang melawan terorisme ini adalah titik balik bagi banyak kalangan, sangat berbahaya, dan belum pernah terjadi sebelumnya. Dikarenakan perang ini tidak jelas definisinya dan berbeda dengan perang-perang yang sudah jelas tujuannya.
            Ternyata perang melawan teroris terbukti adalah bentuk kebohongan yang dikarang Amerika yang justru menghancurkan reputasi mareka serta menstigmanya sebagai Negara pencipta dan pemelihara terorisme. Presiden berikutnya yakni Barack Husein Obama meninggalkan istilah War on Terror dengan berfokus pada domestic terrorism (terorisme domestik) dalam strategi barunya untuk bidang keamanan nasional.
            Sejatinya, Amerika bukanlah dalam kondisi memerangi terorisme atau Islam melainkan hanya satu golongan saja yakni Al Qaeda dan para teroris yang terkait. Hal ini tertera dalam sebuah dokumen.
            Ingatan dunia akan kabar bohong War on Terror, terus menerus dikukuhkan oleh kekuatan jahat dengan berbagai cara, dengan memproduksi, mempublikasikan, mengadakan peringatan  11 September, dan pada saat itulah tersebar analisis dan pekulasi. Dan pada waktu yang bersamaan, kemarahan bangsa Eropa semakin meningkat terhadap kaum muslimin, setelah George Bush memberitahu seisi dunia bahwa terorisme didalangi oleh orang-orang Al Qaeda (Islam) yang samasekali belum pernah kita dengar sebelum tragedy 11 September.
            Faktanya, serangan 11 September 2001 merupakan peristiwa unik par excellence yang berkaraker masa modern pasca-berkhirnya Perang Dingin, sebagaiman yang dijelaskan para intelektual dan praktisi politik. Yang mana hal tersebut tak ubahnya adalah sejarah interval dalam menciptakan revolusi neo-imperialisme yang dipersonifikasi oleh kekuatan unipolar (satu kutub) Amerika Serikat. Dan sejatinya, peristiwa tersebut adalah pemicu konfrontasi bertensi tinggi Islam vs Barat.
            Dalam kondisi ketiadaan prinsip undang-undang terdapat isyarat-isyarat yang membolehkan Negara superpower (adikuasa) melakukan penyiksaan, penindasan atau bahkan perbudakan terhadap bangsa dan ras atas dalih terorisme berdasarkan kecurigaan semata. Parahnya Amerika sibuk mencari justifikasi palsu, sebagaimana klaim adanya Senjata Pemusnah Massal di Irak dan keterlibatan Negara-negara tersebut dengan Al Qaeda. Mereka juga menolak isi dari Bab IV Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (tentang solusi perundingan, mediasi, dan car-cara damai lainnya) dan lebih memilih kekuatan militer.
            Terdapat sebuah buku berjudul Spies, Lies and the War on Terror yang bebicara panjang-lebar tentang dunia abu-abu, sensitive, dan samar-samar bagi kebanyakan orang. Yaitu dinas intelijen Barat, terutama Amerika Serikat dan Inggris, meliputi seluruh plot, target, dan operasi yang dilakukannya di bumi serta kaitannya dengan peristiwa-peristiwa di kawasan konflik di dunia.
            Adapun kesimpulan dari isi buku tersebut menegaskan bahwa kosakata istilah “perang melawan terorisme” yang membawa petaka dan carut-marut di dalamnya meliputi tiga peperangan:
1.      Panggung konflik tradisional di kawasan Timur Tengah yang berkaitan denganhegemoni Amerika (tentu saja minyak)
2.      Perang pararel terhadap kebebasan-kebebasan sipil di Barat digerakkan oleh agen-agen pemerintahan yang berupaya mengamankan kekuasaan dan kebajiikan politik guna mencuri pentas.
3.      Konflik intelijen di antara dinas intelijen Barat, tetapi terbatas pada medan pemberantasan teror harian.
Sejatinya, kebohongan Barat prihal peristiwa Black September ini hanya buatan Amerika, yang sudah tak disangsikan lagi bahwa mereka ingin menciptakan persepsi buruk seluruh penduduk bumi terhadap Islam. Dan mereka ingin selruh dunia memandang Islam adalah teroris.

            Akhirnya, seluruh kebohongan itu runtuh dengan sendirinya oleh besarnya tekanan kepalsuan dan tipu daya. Sekarang kita berada di era baru sejarah perpolitikan. Namun, jangan sekali-kali merasa bahwa kita telah terbebas dari era tersebut. Karena menurut Adolf Hitler –pemrakarsa teori kebohongan besar–mengatakan bahwa kebohongan yang menjijikkan itu biasanya tetap tersisa dan masih menempel serta menularkan pengaruhnya. Dengan kata lain, kebohongan yang besar akan menimbulkan kebohopngan-kebohongan kecil yang akan melanjutkan pengaruhnya dalam diskursus politik umum dengan cara yang sangat rumit untuk bisa dideteksi dan diverifikasi.

0 komentar:

Posting Komentar