KEBOHONGAN BARAT BERDALIH
WAR on TERROR (PERANG MELAWAN TERORISME) atau THE GLOBAL WAR on TERRORISM (PERANG GLOBAL MELAWAN
TERORISME)
The Global War on Terrorism atau
yang kelompok lain menyebutnya dengan The Long War (Perang Panjang
Terorisme), adalah sebuah istilah tentang kampanye anti teroris yang dipimpin
oleh Amerika Serikat pimpinan George W. Bush dan diikuti Negara-negara
sekutunya.
Kamapanye yang dimulai sejak
peristiwa runtuhnya menara World Trade Center (WTC) di New York yang disebut dilakukan
oleh kelompok Al Qaeda yang menjadi poros utama kebijakan George W. Bush, baik
level nasional maupun internasional. Perang melawan terorisme ini adalah titik
balik bagi banyak kalangan, sangat berbahaya, dan belum pernah terjadi
sebelumnya. Dikarenakan perang ini tidak jelas definisinya dan berbeda dengan
perang-perang yang sudah jelas tujuannya.
Ternyata perang melawan teroris
terbukti adalah bentuk kebohongan yang dikarang Amerika yang justru
menghancurkan reputasi mareka serta menstigmanya sebagai Negara pencipta dan
pemelihara terorisme. Presiden berikutnya yakni Barack Husein Obama
meninggalkan istilah War on Terror dengan berfokus pada domestic
terrorism (terorisme domestik) dalam strategi barunya untuk bidang keamanan
nasional.
Sejatinya, Amerika bukanlah dalam
kondisi memerangi terorisme atau Islam melainkan hanya satu golongan saja yakni
Al Qaeda dan para teroris yang terkait. Hal ini tertera dalam sebuah dokumen.
Ingatan dunia akan kabar bohong War
on Terror, terus menerus dikukuhkan oleh kekuatan jahat dengan berbagai
cara, dengan memproduksi, mempublikasikan, mengadakan peringatan 11 September, dan pada saat itulah tersebar analisis
dan pekulasi. Dan pada waktu yang bersamaan, kemarahan bangsa Eropa semakin
meningkat terhadap kaum muslimin, setelah George Bush memberitahu seisi dunia
bahwa terorisme didalangi oleh orang-orang Al Qaeda (Islam) yang samasekali
belum pernah kita dengar sebelum tragedy 11 September.
Faktanya, serangan 11 September 2001
merupakan peristiwa unik par excellence yang berkaraker masa modern
pasca-berkhirnya Perang Dingin, sebagaiman yang dijelaskan para intelektual dan
praktisi politik. Yang mana hal tersebut tak ubahnya adalah sejarah interval
dalam menciptakan revolusi neo-imperialisme yang dipersonifikasi oleh kekuatan unipolar
(satu kutub) Amerika Serikat. Dan sejatinya, peristiwa tersebut adalah pemicu
konfrontasi bertensi tinggi Islam vs Barat.
Dalam kondisi ketiadaan prinsip
undang-undang terdapat isyarat-isyarat yang membolehkan Negara superpower
(adikuasa) melakukan penyiksaan, penindasan atau bahkan perbudakan terhadap
bangsa dan ras atas dalih terorisme berdasarkan kecurigaan semata. Parahnya
Amerika sibuk mencari justifikasi palsu, sebagaimana klaim adanya Senjata
Pemusnah Massal di Irak dan keterlibatan Negara-negara tersebut dengan Al
Qaeda. Mereka juga menolak isi dari Bab IV Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa
(tentang solusi perundingan, mediasi, dan car-cara damai lainnya) dan lebih
memilih kekuatan militer.
Terdapat sebuah buku berjudul Spies,
Lies and the War on Terror yang bebicara panjang-lebar tentang dunia
abu-abu, sensitive, dan samar-samar bagi kebanyakan orang. Yaitu dinas
intelijen Barat, terutama Amerika Serikat dan Inggris, meliputi seluruh plot,
target, dan operasi yang dilakukannya di bumi serta kaitannya dengan
peristiwa-peristiwa di kawasan konflik di dunia.
Adapun kesimpulan dari isi buku
tersebut menegaskan bahwa kosakata istilah “perang melawan terorisme” yang
membawa petaka dan carut-marut di dalamnya meliputi tiga peperangan:
1.
Panggung
konflik tradisional di kawasan Timur Tengah yang berkaitan denganhegemoni
Amerika (tentu saja minyak)
2.
Perang
pararel terhadap kebebasan-kebebasan sipil di Barat digerakkan oleh agen-agen
pemerintahan yang berupaya mengamankan kekuasaan dan kebajiikan politik guna
mencuri pentas.
3.
Konflik
intelijen di antara dinas intelijen Barat, tetapi terbatas pada medan
pemberantasan teror harian.
Sejatinya,
kebohongan Barat prihal peristiwa Black September ini hanya buatan
Amerika, yang sudah tak disangsikan lagi bahwa mereka ingin menciptakan
persepsi buruk seluruh penduduk bumi terhadap Islam. Dan mereka ingin selruh
dunia memandang Islam adalah teroris.
Akhirnya, seluruh kebohongan itu
runtuh dengan sendirinya oleh besarnya tekanan kepalsuan dan tipu daya.
Sekarang kita berada di era baru sejarah perpolitikan. Namun, jangan
sekali-kali merasa bahwa kita telah terbebas dari era tersebut. Karena menurut
Adolf Hitler –pemrakarsa teori kebohongan besar–mengatakan bahwa kebohongan
yang menjijikkan itu biasanya tetap tersisa dan masih menempel serta menularkan
pengaruhnya. Dengan kata lain, kebohongan yang besar akan menimbulkan
kebohopngan-kebohongan kecil yang akan melanjutkan pengaruhnya dalam diskursus
politik umum dengan cara yang sangat rumit untuk bisa dideteksi dan
diverifikasi.







0 komentar:
Posting Komentar