Recent Posts

Kamis, 24 Maret 2016

Ketika Laundri Menjadi Solusi atau Ilusi




Ketika Laundri Menjadi Solusi atau Ilusi
            Dalam qoidah fiqh di sebutkan
أَلْأَجْرُ عَلًَي قَدْرِ التَّعَبِ
Besarnya pahala itu itu tergantung pada kepayannya”
            Dalam alquran juga di sebutkan, bahwasannya ALLAH Swt berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah.7-8)
            Apabila kita mau belajar dan kembali membuka lembaran sejarah kehidupan para ulama dan Imam sunnah, mereka telah memberikan contoh dan teladan sangat mulia dalam menyeimbangkan antara kepentingan mencari ilmu dan mencari nafkah. Bahkan setiap para nabi dan rasul berusaha dan berkarya untuk menopang kelangsungan dalam menyebarkan risalah dan dakwah. Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Idris menjahit pakaian dan Nabi Daud membuat baju perang, sehingga bekerja untuk bisa hidup mandiri merupakan sunnah para utusan Allah. Maka berusaha untuk mencari nafkah baik dengan berniaga, bertani dan berternak tidak dianggap menjatuhkan martabat dan tidak bertentangan dengan sikap tawakal.
Inilah yang difahami oleh para utusan Allah dan para ulama salaf sehingga mereka tergolong orang-orang yang rajin bekerja dan ulet dalam berusaha namun mereka juga gigih dan tangguh dalam menuntut ilmu dan menyebarkan agama. Tidak mengapa seorang bekerja di bidang dakwah dan urusan kaum muslimin lalu mendapat imbalan dari pekerjaan tersebut, karena Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika menjadi Khalifah mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari baitul mal. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah setiap pagi pergi ke pasar memanggul beberapa helai pakaian untuk dijual, lalu beliau bertemu dengan Umar dan Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhum, maka mereka berkata: “Bagaimana kamu berdagang sementara kamu menjadi pemimpin kaum muslimin?” maka beliau berkata: “Dari mana aku menghidupi keluargaku?” Mereka menjawab: “Kalau begitu kami akan menjatahkanmu setiap hari separuh kambing dari harta baitul mal.”
Cobalah renungkan kehidupan para utusan Allah Ta’ala dan para ulama salaf, kegiatan mereka dalam mencari ilmu dan berdakwah tidak melalaikan mereka mengais rizki yang halal untuk menafkahi keluarganya. Oleh karena itu, kita harus bisa meneladani mereka baik dalam menuntut ilmu maupun dalam mencari nafkah, janganlah malas bekerja dengan alasan tidak bisa menuntut ilmu.
Setelah kita memahami dan merenungi, maka marilah kita analogikan dan kita samakan posisi kita dengan mereka para ulama’ yang sama-sama notabennya pencari ilmu agama, namun yang menjadi pembedanya adalah mereka bekerja dengan belajar, sedangkan kita belajar saja tanpa bekerja. Tetapi di sini saya mencoba memberikan perumpamaan tentang pekerjaan ringan kita yang apabila di niatkan iklas, insya Allah sama halnya dengan pekerjaan ulama’ pendahulu kita. Adalah yang saya maksud di sini adalah pekerjaan MENCUCI. Terkadang saya selalu tanda Tanya, mengapa mayoritas santri sekarang banyak yang membawa keluar tas berisi pakaian? Ketika saya mencoba bertanya kepada salah satu teman di kelas, dia menjawab bahwa santri sekarang sudah modern, mereka ngelaundri, mencuci membuang-buang waktu dan serba ribet” begitu kira-kira jawabannya.
Ketika saya meng-angan-angan jawaban teman saya tadi, maka timbul sebuah pertanyaaan lain. Kalau memang ngelaundri itu untuk menghemat waktu agar bisa di buat belajar, tapi mengapa perpustakaan masih sering kekuranagan pengunjung? Mengapa kitab-kitab perpustakaan masih tersenyum malu tanpa pernah di jamah para santri? Dan kenapa prestasi santri masih saja angin-anginan? Seharusnya dengan launderi waktu nya bisa di buat hal kabaikan-kebaikan dan menambah jam belajar atau yang lainnya? Ada apa sebenarnya?......?Apakah laundry itu hanyalah ilusi belaka untuk menghindar dari pekerjaan mencuci?.....
Sungguh sangat di sayangkan sekali, jika pekerjaan mencuci yang bila di niati ibadah tentunya akan menghasilkan besarnya pahala itu perlahan di tinggalkan dengan alasan apapun itu.!!. Dan sungguh tidak masuk akal jika laundry di jadikan alasan untuk menghemat waktu demi kebaikan dan yang lainnya namun kenyataannya kita masih jauh dari katagori baik.? Prestasi apa saja selama ini yang sudah kita dapatkan?
Sudahkah kita berkaca kepada kisah-kisah teladan ulama’ yang mereka berhasil dalam mencari ilmu dengan tanpa mengesampingkan bekerja dan urusan dunia?.
            Sebagai penutup, Marilah kita membuka mata hati , Melaundri itu sangat baik, sebagai penghemat waktu, asalkan bukan di buat ajang pemborosan uang dan di buat ladang untuk bermalas-malassan. “AlMUHAFADHOH ‘ALA QODIMIS SHOLEH WAL JADIDU BI JADIDI ASLAH / Melestarika tradsis lama yang baik, dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik” . Alangkah baiknya, jika laundry di jadikan solusi dan di niatkan meraih kebaikan-kebaikan dengan menggunakan waktu yang awalnya di buat mencuci bisa di gunakan untuk hal-hal yang lebih baik dan bermafaat bagi diri sendiri dan bagi orang lainnya. Wallahu a’lam bis sawaab.




0 komentar:

Posting Komentar