Ketika Laundri Menjadi Solusi atau Ilusi
Dalam qoidah fiqh di sebutkan
“أَلْأَجْرُ عَلًَي قَدْرِ التَّعَبِ
“Besarnya
pahala itu itu tergantung pada kepayannya”
Dalam alquran juga di sebutkan,
bahwasannya ALLAH Swt berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
pula” (QS. Az
Zalzalah.7-8)
Apabila
kita mau belajar dan kembali membuka lembaran sejarah kehidupan para ulama dan
Imam sunnah, mereka telah memberikan contoh dan teladan sangat mulia dalam
menyeimbangkan antara kepentingan mencari ilmu dan mencari nafkah. Bahkan
setiap para nabi dan rasul berusaha dan berkarya untuk menopang kelangsungan
dalam menyebarkan risalah dan dakwah. Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi
Idris menjahit pakaian dan Nabi Daud membuat baju perang, sehingga bekerja untuk
bisa hidup mandiri merupakan sunnah para utusan Allah. Maka berusaha untuk
mencari nafkah baik dengan berniaga, bertani dan berternak tidak dianggap
menjatuhkan martabat dan tidak bertentangan dengan sikap tawakal.
Inilah yang difahami oleh para
utusan Allah dan para ulama salaf sehingga mereka tergolong orang-orang yang
rajin bekerja dan ulet dalam berusaha namun mereka juga gigih dan tangguh dalam
menuntut ilmu dan menyebarkan agama. Tidak mengapa seorang bekerja di bidang
dakwah dan urusan kaum muslimin lalu mendapat imbalan dari pekerjaan tersebut,
karena Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika menjadi Khalifah
mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari baitul mal. Ibnu Sa’ad meriwayatkan
bahwa ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah setiap pagi
pergi ke pasar memanggul beberapa helai pakaian untuk dijual, lalu beliau
bertemu dengan Umar dan Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhum, maka
mereka berkata: “Bagaimana kamu berdagang sementara kamu menjadi pemimpin kaum
muslimin?” maka beliau berkata: “Dari mana aku menghidupi keluargaku?” Mereka
menjawab: “Kalau begitu kami akan menjatahkanmu setiap hari separuh kambing
dari harta baitul mal.”
Cobalah renungkan kehidupan para
utusan Allah Ta’ala dan para ulama salaf, kegiatan mereka dalam
mencari ilmu dan berdakwah tidak melalaikan mereka mengais rizki yang halal
untuk menafkahi keluarganya. Oleh karena itu, kita harus bisa meneladani mereka
baik dalam menuntut ilmu maupun dalam mencari nafkah, janganlah malas bekerja
dengan alasan tidak bisa menuntut ilmu.
Setelah kita memahami dan
merenungi, maka marilah kita analogikan dan kita samakan posisi kita dengan
mereka para ulama’ yang sama-sama notabennya pencari ilmu agama, namun yang
menjadi pembedanya adalah mereka bekerja dengan belajar, sedangkan kita belajar
saja tanpa bekerja. Tetapi di sini saya mencoba memberikan perumpamaan tentang
pekerjaan ringan kita yang apabila di niatkan iklas, insya Allah sama halnya
dengan pekerjaan ulama’ pendahulu kita. Adalah yang saya maksud di sini adalah
pekerjaan MENCUCI. Terkadang saya selalu tanda Tanya, mengapa mayoritas santri
sekarang banyak yang membawa keluar tas berisi pakaian? Ketika saya mencoba
bertanya kepada salah satu teman di kelas, dia menjawab bahwa santri sekarang
sudah modern, mereka ngelaundri, mencuci membuang-buang waktu dan serba ribet”
begitu kira-kira jawabannya.
Ketika saya meng-angan-angan
jawaban teman saya tadi, maka timbul sebuah pertanyaaan lain. Kalau memang
ngelaundri itu untuk menghemat waktu agar bisa di buat belajar, tapi mengapa
perpustakaan masih sering kekuranagan pengunjung? Mengapa kitab-kitab
perpustakaan masih tersenyum malu tanpa pernah di jamah para santri? Dan kenapa
prestasi santri masih saja angin-anginan? Seharusnya dengan launderi waktu nya
bisa di buat hal kabaikan-kebaikan dan menambah jam belajar atau yang lainnya?
Ada apa sebenarnya?......?Apakah laundry itu hanyalah ilusi belaka untuk
menghindar dari pekerjaan mencuci?.....
Sungguh sangat di sayangkan
sekali, jika pekerjaan mencuci yang bila di niati ibadah tentunya akan
menghasilkan besarnya pahala itu perlahan di tinggalkan dengan alasan apapun
itu.!!. Dan sungguh tidak masuk akal jika laundry di jadikan alasan untuk
menghemat waktu demi kebaikan dan yang lainnya namun kenyataannya kita masih
jauh dari katagori baik.? Prestasi apa saja selama ini yang sudah kita
dapatkan?
Sudahkah kita berkaca kepada
kisah-kisah teladan ulama’ yang mereka berhasil dalam mencari ilmu dengan tanpa
mengesampingkan bekerja dan urusan dunia?.
Sebagai
penutup, Marilah kita membuka mata hati , Melaundri itu sangat baik, sebagai
penghemat waktu, asalkan bukan di buat ajang pemborosan uang dan di buat ladang
untuk bermalas-malassan. “AlMUHAFADHOH ‘ALA QODIMIS SHOLEH WAL JADIDU BI
JADIDI ASLAH / Melestarika tradsis lama yang baik, dan mengadopsi hal-hal baru
yang lebih baik” . Alangkah baiknya, jika laundry di jadikan solusi dan di
niatkan meraih kebaikan-kebaikan dengan menggunakan waktu yang awalnya di buat
mencuci bisa di gunakan untuk hal-hal yang lebih baik dan bermafaat bagi diri
sendiri dan bagi orang lainnya. Wallahu a’lam bis sawaab.







0 komentar:
Posting Komentar