Merupakan tradisi yang telah terjadi di era Jahiliyah, yakni setiap
idividu saling membanggakan nasabnya masing-masing. Dan seakan-akan tradisi ini
telah mendarah daging dalam diri setiap insane. Baik itu dari kalangan
orang-orang darah biru, priayi, bahkan kiai sekalipun.
Fenomena ini sudah
tak asing lagi di mata kita. Karena banyak kita temui orang-orang yang memiliki
nasab bagus membangga-banggakan leluhurnya, sedangkan dirinya tak seperti
leluhurnya. Apa dengan menyombongkan nasabnya dengan menyebut-nyebut “aku
keturunan Fulan” akan membuat para leluhurnya bahagia dan bangga dengan
dirinya? Sementara dia tak seperti para leluhurnya, yang mana dia dalam
kesehariannya melakukan suatu pekerjaan yang sangat tak pantas dimiliki oleh
keturunan orang terpandang. Dan apakah nasab yang bagus menjadikan dirnya mulia
di sisi Allah? Samasekali tidak. Nasab tak bisa menjamin sesorang menjadi mulia
di sisi Allah, meski di mata manusia dia adalah orang mulia. Melainkan
ketakwaan kepada-Nyalah yang menjadi tolak ukur sesorang menjadi mulia di sisi
Allah. Firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah
adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13)
Dari ayat tersebut,
kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa yang menjadi tolak ukur sesorang
itu mulia di sisi allah adalah kadar ketakwaannya kepada Allah.
Bahkan telah terjadi di hadapan kita, yang mana antara yang
bernasab bagus dengan masyarakat yang bernasab biasa sama-sama salah kaprah,
yang mana hal ini perlu adanya usaha untuk meluruskannya. Yakni, ketika ada
orang yang bernasab bagus menyombongkan dirinya karena telah memiliki back
up, yakni nasabnya yang bagus dengan dalil dari hadits nabi SAW:
عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله
عليه و سلم أحبوا الله لما يغذوكم من نعمه وأحبوني بحب الله وأحبوا أهل بيتي لحبي.
(رواه الترمذي)
“Diriwayatkan dari Ibnu abbas, beliau
berkata bahwasanya nabi SAW bersabda: cintailah Allah karena Dia yang
memberikan kalian makan dari beberapa nikmat-Nya, dan cintailah aku sebab
mencintai Allah, dan cintailah ahli baitku karena mencintaiku”. (HR.
Tirmidzi)
Hadits inilah yang dijadikan senjata ampuh yang tercanggih agar
dapat merendahkan yang lain dan agar orang lain hormat terhadapnya. Inilah
kesalahan yang tak seharusnya tak dilakukan oleh para penyandang keturunan
orang mulia. Dan efek dari salah penggunaan dalil inilah, mereka yang bernasab
biasa saja keterlaluan dalam menghormati para pemilik nasab bagus, dan efeknya
para pemilik nasab bagus ini akan semakin menyombangkan diri.
Padahal
sebenarnya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi tersebut diperuntukkan sebagai
pegangan orang-orang yang memiliki nasab biasa dengan tanpa melupakan ayat
al-qur’an surat Al-Hujurat: 13, agar menghormati golongan yang bernasab bagus
secara biasa-biasa saja, sedangkan ayat al-qur’an dalam surat Al-Hujurat: 13
itu sebagai pegangan para pemilik nasab bagus, agar tidak menyombongkan
nasabnya. Hal inilah yang bertujuan agar supaya antara golongan pemilik nasab
bagus dengan yang bernasab biasa saling menghormati dengan tanpa menjatuhkan
dan merendahkan satu samalain.
Akan tetapi tak bisa dipungkiri, bahwa adanya nasab yang bagus
memang membantu sesorang memperoleh pamor/kemuliaan di mata khalayak umum.
Itulah nasab yang hanyalah Background dari setiap orang. Seseorang yang
memiliki nasab bagus tak lain sama halnya dengan seseorang yang berfoto dengan background
pemandangan bagus, baik berupa alam lepas maupun sebuah bangunan indah yang
sangat terkenal di dunia, sehingga dapat membuat siapa saja yang berfoto dengan
background tersebut menjadi orang yang dikenal semua orang.






0 komentar:
Posting Komentar