Recent Posts

Sabtu, 19 Maret 2016

NASAB ADALAH BACKGROUND

Merupakan tradisi yang telah terjadi di era Jahiliyah, yakni setiap idividu saling membanggakan nasabnya masing-masing. Dan seakan-akan tradisi ini telah mendarah daging dalam diri setiap insane. Baik itu dari kalangan orang-orang darah biru, priayi, bahkan kiai sekalipun.
            Fenomena ini sudah tak asing lagi di mata kita. Karena banyak kita temui orang-orang yang memiliki nasab bagus membangga-banggakan leluhurnya, sedangkan dirinya tak seperti leluhurnya. Apa dengan menyombongkan nasabnya dengan menyebut-nyebut “aku keturunan Fulan” akan membuat para leluhurnya bahagia dan bangga dengan dirinya? Sementara dia tak seperti para leluhurnya, yang mana dia dalam kesehariannya melakukan suatu pekerjaan yang sangat tak pantas dimiliki oleh keturunan orang terpandang. Dan apakah nasab yang bagus menjadikan dirnya mulia di sisi Allah? Samasekali tidak. Nasab tak bisa menjamin sesorang menjadi mulia di sisi Allah, meski di mata manusia dia adalah orang mulia. Melainkan ketakwaan kepada-Nyalah yang menjadi tolak ukur sesorang menjadi mulia di sisi Allah. Firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13)
            Dari ayat tersebut, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa yang menjadi tolak ukur sesorang itu mulia di sisi allah adalah kadar ketakwaannya kepada Allah.
Bahkan telah terjadi di hadapan kita, yang mana antara yang bernasab bagus dengan masyarakat yang bernasab biasa sama-sama salah kaprah, yang mana hal ini perlu adanya usaha untuk meluruskannya. Yakni, ketika ada orang yang bernasab bagus menyombongkan dirinya karena telah memiliki back up, yakni nasabnya yang bagus dengan dalil dari hadits nabi SAW:
عن ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم أحبوا الله لما يغذوكم من نعمه وأحبوني بحب الله وأحبوا أهل بيتي لحبي. (رواه الترمذي)
Diriwayatkan dari Ibnu abbas, beliau berkata bahwasanya nabi SAW bersabda: cintailah Allah karena Dia yang memberikan kalian makan dari beberapa nikmat-Nya, dan cintailah aku sebab mencintai Allah, dan cintailah ahli baitku karena mencintaiku”. (HR. Tirmidzi)
Hadits inilah yang dijadikan senjata ampuh yang tercanggih agar dapat merendahkan yang lain dan agar orang lain hormat terhadapnya. Inilah kesalahan yang tak seharusnya tak dilakukan oleh para penyandang keturunan orang mulia. Dan efek dari salah penggunaan dalil inilah, mereka yang bernasab biasa saja keterlaluan dalam menghormati para pemilik nasab bagus, dan efeknya para pemilik nasab bagus ini akan semakin menyombangkan diri.
            Padahal sebenarnya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi tersebut diperuntukkan sebagai pegangan orang-orang yang memiliki nasab biasa dengan tanpa melupakan ayat al-qur’an surat Al-Hujurat: 13, agar menghormati golongan yang bernasab bagus secara biasa-biasa saja, sedangkan ayat al-qur’an dalam surat Al-Hujurat: 13 itu sebagai pegangan para pemilik nasab bagus, agar tidak menyombongkan nasabnya. Hal inilah yang bertujuan agar supaya antara golongan pemilik nasab bagus dengan yang bernasab biasa saling menghormati dengan tanpa menjatuhkan dan merendahkan satu samalain.
Akan tetapi tak bisa dipungkiri, bahwa adanya nasab yang bagus memang membantu sesorang memperoleh pamor/kemuliaan di mata khalayak umum. Itulah nasab yang hanyalah Background dari setiap orang. Seseorang yang memiliki nasab bagus tak lain sama halnya dengan seseorang yang berfoto dengan background pemandangan bagus, baik berupa alam lepas maupun sebuah bangunan indah yang sangat terkenal di dunia, sehingga dapat membuat siapa saja yang berfoto dengan background tersebut menjadi orang yang dikenal semua orang.

0 komentar:

Posting Komentar