HAKIKAT
CINTA
CINTA, sebuah kata atau ungkapan atau perasaan yang sudah tak asing
lagi di mata orang banyak. tak bisa disangsikan lagi, banyak orang yang sering
menggunakan kata ini, tapi tak jarang pula orang yang tau akan arti dari kata
ini.
Cinta adalah anugerah terindah dari
Allah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Cinta adalah misteri dalam kehidupan
setiap insan. Cinta adalah kata atau perasaan suci yang pasti ada pada diri
setiap insan.
Setiap insan pasti mempunyai insting
mencintai, meski obyek atau sasaran dari perasaan ini beragam. setiap pasti
pernah dan akan merasakan pahit dan manisnya mencinta. perasaan mencinta
seringkali hanya tertuju pada mencintai lawan jenis, padahal yang menjadi obyek
dari perasaan ini tak hanya itu, bahkan tertuju pada apa saja yang menjadi
kegemaran Si Pecinta.
Pada dasarnya perasaan cinta
merupakan perasaan yang suci, yang bila seseorang mencurahkannya pada sesuatu
yang tepat dengan metode yang benar, maka perasaan ini tetap merupakan perasaan
lahiriyah yang suci. Akan tetapi, kebanyakan dari kita telah menyelewengkan
arti dari mencintai ini dengan mencurahkannya pada sesuatu yang tidak tepat,
yang berakibat pada ternodainya perasaan cinta.
Banyak dan beraneka ragam cinta dalam
kehidupan ini. di antaranya ada cinta materi atau mereka yang materialistis.
Padahal cinta harta adalah puncak dari kerusakan dan kesalahan. Dan orang yang
mencintai akan harta, kesenangan hawa nafsu, gemar hiburan dan bersantai atau
yang disebut kalau dalam istilah ajaran satanisme yang didirikan oleh Anton
Szandor Lavey, yang identik pada sikap ke-individualisme hingga berpotensi pada
kerusakan. Inilah cinta yang telah ternodai.
Adalagi
perasaan cinta pada sesama makhluk khususnya sesama manusia, yang adakalnya
masih tergolong cinta suci dan adapula yang malah ternodai. itu semua
tergantung pada orangnya. Jika dia mencurahkan cinta pada yang tepat dan benar
di mata syari’at, maka kesucian cinta masih terjamin. Tapi jika tidak maka cinta
tak lagi suci.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم- «
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى
تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟
أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ »
Rasulullah bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian
beriman, dan tidaklah masuk kategori mukmin sempurna hingga kalian saling
mencintai. Bukankah telah ku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya maka akan terjalin
hubungan saling mencintai?Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Dari
hadits tersebut, jelas bahwa saling mencintai adalah prasarat masuknya kita
dalam kategori mukmin sempurna. Tapi cinta di sini tidak serta merta asal
mencinta, tapi harus ada dalam koridor agama, yakni harus benar di mata syari’at.
Tapi
hakikat cinta yang suci adalah perasaan cinta pada manusia agung yang sudah
sepantasnya kita sebagai umatnya untuk mencintainya mengalahkan yang lainnya,
dan yang otomatis menghantarkan kita cinta pada Yang Maha Mencinta. Dialah
manusia agung, manusia pilihan dan manusia yang telah sampai pada taraf
kesempurnaan karena tidak melakukan dosa sedikitpun, dialah Rasulullah SAW.
inilah yang dinamakan dan yang disebut Cinta Suci. Beliau bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- « لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ - وَفِى حَدِيثِ عَبْدِ الْوَارِثِ
الرَّجُلُ - حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ »
“Tidakalah
sempurna iman seorang hamba hingga aku lebih ia cintai daripada keluarganya,
harta dan seluruh manusia. (HR. Muslim).
Wallahu A’lam…






0 komentar:
Posting Komentar