FILOSOFI MANCING
“Jangan beri aku ikan, tapi ajari aku
mencari ikan”
Kurang lebih begitulah perkataan seorang
pepatah asal Negeri Tirai Bambu.
Fenomena
alam yang terjadi di sekitar kita, entah itu kita alami sendiri atau yang kita
amati dari kejadian di sekitar kita, ternyata mengandung begitu banyak hikmah
yang tersirat di dalam peristiwa tersebut. Dan hal tersebut, yakni hikmah di
balik setiap peristiwa yang terjadi hanya bisa diperoleh atau bisa ditemukan
oleh mereka yang mau berfikir, ber-tadabbur, dan mau berfikir positif.
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang suci:
قُلْ
سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ...(20)
“Katakanlah! Berjalanlah kalian di bumi,
dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan (manusia).” (QS. Al
Ankabut: 20)
Ayat tersebut sangatlah
berkesinambungan dengan ayat pertama yang pertamakali Allah wahyukan kepada
Nabi Muhammad Saw. Atau menjadi penguat, bahwa Allah sangat memerintahkan
hamba-Nya membaca atau mempelajari apa saja tanpa adanya keharusan mempelajari
ilmu Syari’at saja. Allah hanya memberikan Warning bagi pencari ilmu
(pengetahuan / pengalaman) agar senantiasa mengembalikan semuanya pada Allah.
Artinya tetap dalam koridor Agama Islam. Yakni dengan tidak saling
berbangga-banggaan dengan ilmunya, selalu ingat bahwa semua sangatlah rendah di
mata Allah, selalu ingat bahwa semua ilmu yang didapat tak lain berkat anugerah
Allah.
Allah berfirman:
ٱقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ(1)
“Bacalah
(belajarlah)! Dengan menyebut nama Allah.” (QS. Al Alaq: 1)
Ayat
tersebut memiliki mafhum al ayat, bahwa Allah memerintahkan untuk
belajar apa saja (karena di situ tidak menyebutkan maf’ul, atau
menyebutkan ilmu apa yang harus dipelajari) namun dengan tetap menyandarkan
semuanya pada Allah. Artinya, dengan tidak lupa bahwa semuanya (ilmu) yang kita
pelajari tujuannya adalah demi Agama Allah (Islam) dan demi mencari Ridla
Allah.
Dari kedua ayat tersebutlah, kami merasa mendapat
support atau termotivasi untuk berbagi ilmu dari apa yang telah berhasil kami
amati dari amaliyah, atau pekerjaan yang bila dilihat secara kasat mata, hal
itu hanyalah perbuatan yang sia-sia, perbuatan yang membosankan, dan pekerjaan
para pemalas.
Dari perbuatan atau pekerjaan yang dinilai orang
negative tersebut yakni memancing, ternyata menyimpan beberapa hikmah atau ilmu
tersirat darinya. Di antaranya adalah:
1. Melatih
kesabaran.
Di saat memancing, sudah barang pasti si
pemancing (orang yang memancing) dituntut bersabar menunggu umpannya disambar
ikan. Dan ini sangatlah dibutuhkan tingkat kesabaran kelas kakap.
Allah memberi jaminan kepada orang yang
sabar terhadap apapun, dengan jaminan yang sangat luhur. Firman Allah:
...إِنَّ اللّٰهَ مَعَ
الصَّٰبِرِينَ (153)
“Sesungguhnya
Allah bersama para manusia yang sabar.”
(QS.
Al Baqarah: 153)
2. Rizki datang
tak lain hanyalah buah dari campur Tangan Allah Swt.
Dalam memncing ikan, secanggih apapun,
semahal apapun alat pancingnya, tidak menjadi jaminan akan disambar berbagai
macam, jenis,dan ukuran ikan. Namun semuanya hanyalah buah dari campur Tangan
Allah Swt.
...قلى
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّـٰهَ يَجْعَلْ لَهُۥ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ
لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۗ...
“Siapa saja yang
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia
akan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Dan siapa saja
yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Ath Thalaq: 2-3)
Ayat tersebut merupakan dalil dari filosofi
mancing yang kedua. Dalam ayat tersebut ada firman yang menyatakan bagi “Siapa
Saja yang Bertakwa”. kenapa kami juga mengikutsertakan ayat tersebut? Hal itu
tak lain karena bentuk dari takwa ialah ketersediaan orang yang mancing tidak
melakukan hal yang dapat merusak alam atau populasi ikan tersebut. Karena takwa
ialah melaksanakan perintah Allah, meninggalkan larangan Allah. Dan menjaga
alam adalah bentuk rahmat kita kepada alam semesta yang itu merupakan perintah
Nabi Muhammad Saw. sedangkan mengikuti perintah beliau adalah perintah Allah
Swt.
3. Peduli
lingkungan.
Islam adalah Agama yang mengajarkan Rahmatan
Lil `Âlamîn. Yang artinya Islam ini datang sebagai Agama yang mengajarkan
rahmat, bukan malah menjadi ancaman atau mara bahaya bagi seluruh alam ini.
Rasulullah bersabda:
الرَّاحِمُونَ
يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى
السَّمَاءِ
“Orang-orang yang rahmat,
niscaya Dzat yang Maha Rahman akan merahmatinya. Maka rahmatilah penduduk bumi
(semua makhluk bumi), niscaya kalian akan dirahmati para penduduk langit.”
(HR. Abu
Dawud, Ahmad, dan at Tirmidzi)
4. Melatih
bersyukur di saat memperoleh kenikmatan.
Allah memerintahkan kita agar senantiasa
mensyukuri setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Karena bersyukur
ialah merupakan salahsatu bentuk terima kasih kita kepada Allah Swt. Allah
berfirman dalam al Quran:
...لَئِنْ
شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ...(7)
“Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim:
7)






0 komentar:
Posting Komentar