Recent Posts

Sabtu, 04 Maret 2017

FILOSOFI MANCING



FILOSOFI MANCING
Jangan beri aku ikan, tapi ajari aku mencari ikan
Kurang lebih begitulah perkataan seorang pepatah asal Negeri Tirai Bambu.
            Fenomena alam yang terjadi di sekitar kita, entah itu kita alami sendiri atau yang kita amati dari kejadian di sekitar kita, ternyata mengandung begitu banyak hikmah yang tersirat di dalam peristiwa tersebut. Dan hal tersebut, yakni hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi hanya bisa diperoleh atau bisa ditemukan oleh mereka yang mau berfikir, ber-tadabbur, dan mau berfikir positif.
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang suci:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ...(20)
Katakanlah! Berjalanlah kalian di bumi, dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan (manusia).” (QS. Al Ankabut: 20)
            Ayat tersebut sangatlah berkesinambungan dengan ayat pertama yang pertamakali Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Atau menjadi penguat, bahwa Allah sangat memerintahkan hamba-Nya membaca atau mempelajari apa saja tanpa adanya keharusan mempelajari ilmu Syari’at saja. Allah hanya memberikan Warning bagi pencari ilmu (pengetahuan / pengalaman) agar senantiasa mengembalikan semuanya pada Allah. Artinya tetap dalam koridor Agama Islam. Yakni dengan tidak saling berbangga-banggaan dengan ilmunya, selalu ingat bahwa semua sangatlah rendah di mata Allah, selalu ingat bahwa semua ilmu yang didapat tak lain berkat anugerah Allah.
Allah berfirman:
ٱقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ(1)
Bacalah (belajarlah)! Dengan menyebut nama Allah.” (QS. Al Alaq: 1)
Ayat tersebut memiliki mafhum al ayat, bahwa Allah memerintahkan untuk belajar apa saja (karena di situ tidak menyebutkan maf’ul, atau menyebutkan ilmu apa yang harus dipelajari) namun dengan tetap menyandarkan semuanya pada Allah. Artinya, dengan tidak lupa bahwa semuanya (ilmu) yang kita pelajari tujuannya adalah demi Agama Allah (Islam) dan demi mencari Ridla Allah.
Dari kedua ayat tersebutlah, kami merasa mendapat support atau termotivasi untuk berbagi ilmu dari apa yang telah berhasil kami amati dari amaliyah, atau pekerjaan yang bila dilihat secara kasat mata, hal itu hanyalah perbuatan yang sia-sia, perbuatan yang membosankan, dan pekerjaan para pemalas.
Dari perbuatan atau pekerjaan yang dinilai orang negative tersebut yakni memancing, ternyata menyimpan beberapa hikmah atau ilmu tersirat darinya. Di antaranya adalah:
1.      Melatih kesabaran.
Di saat memancing, sudah barang pasti si pemancing (orang yang memancing) dituntut bersabar menunggu umpannya disambar ikan. Dan ini sangatlah dibutuhkan tingkat kesabaran kelas kakap.
Allah memberi jaminan kepada orang yang sabar terhadap apapun, dengan jaminan yang sangat luhur. Firman Allah:
...إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّٰبِرِينَ (153)
Sesungguhnya Allah bersama para manusia yang sabar.
(QS. Al Baqarah: 153)
2.      Rizki datang tak lain hanyalah buah dari campur Tangan Allah Swt.
Dalam memncing ikan, secanggih apapun, semahal apapun alat pancingnya, tidak menjadi jaminan akan disambar berbagai macam, jenis,dan ukuran ikan. Namun semuanya hanyalah buah dari campur Tangan Allah Swt.
...قلى وَمَنْ يَتَّقِ اللَّـٰهَ يَجْعَلْ لَهُۥ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۗ...
Siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia akan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka. Dan siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 2-3)
Ayat tersebut merupakan dalil dari filosofi mancing yang kedua. Dalam ayat tersebut ada firman yang menyatakan bagi “Siapa Saja yang Bertakwa”. kenapa kami juga mengikutsertakan ayat tersebut? Hal itu tak lain karena bentuk dari takwa ialah ketersediaan orang yang mancing tidak melakukan hal yang dapat merusak alam atau populasi ikan tersebut. Karena takwa ialah melaksanakan perintah Allah, meninggalkan larangan Allah. Dan menjaga alam adalah bentuk rahmat kita kepada alam semesta yang itu merupakan perintah Nabi Muhammad Saw. sedangkan mengikuti perintah beliau adalah perintah Allah Swt.
3.      Peduli lingkungan.
Islam adalah Agama yang mengajarkan Rahmatan Lil `Âlamîn. Yang artinya Islam ini datang sebagai Agama yang mengajarkan rahmat, bukan malah menjadi ancaman atau mara bahaya bagi seluruh alam ini.
Rasulullah bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
Orang-orang yang rahmat, niscaya Dzat yang Maha Rahman akan merahmatinya. Maka rahmatilah penduduk bumi (semua makhluk bumi), niscaya kalian akan dirahmati para penduduk langit.
(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan at Tirmidzi)
4.      Melatih bersyukur di saat memperoleh kenikmatan.
Allah memerintahkan kita agar senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Karena bersyukur ialah merupakan salahsatu bentuk terima kasih kita kepada Allah Swt. Allah berfirman dalam al Quran:
...لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ...(7)
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

0 komentar:

Posting Komentar