Recent Posts

Sabtu, 19 Maret 2016

SALAFI-WAHABI SEKTE PENUH KEBOHONGAN

Sekte Salafi-Wahabi, adalah sekte atau golongan yang sudah tak lagi asing di telinga kita. Mereka adalah sebuah sekte bentukan ulama’ dari Najd yang berorientasi ingin memurnikan islam dari praktik-praktik kemusyrikan dan juga bervisi misi kembali kepada Al Quran dan As Sunnah, dialah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi At Tamimi. Dan sekte ini terkenal tuduhan Ahli Bid’ah, Takfir, Tasyrik kepada yang tidak sepaham dengan mereka.
            Sebenarnya Salafi atau Salafiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ( 661 H-728 H) atau yang sering dikenal dengan panggilan Ibnu Taimiyah. Salafi atau Salafiyah itu sering dipahami sebagai gerakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau.
            Sedangkan untuk Wahhabi atau Wahhabiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada pelopornya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi At Tamimi (1702 M-1787 M/ 1115 H-1206 H). Sebetulnya, nama Wahabi ini tidak sesuai dengan nama pendirinya, Muhammad, tetapi begitulah orang-orang menyebutnya. Dahulu di Jazirah Arab sendiri, mereka lebih dikenal dengan Wahhabiyah Hanbaliyah. Namun ketika sampai di luar Saudi, mereka menamakan dirinya Salafi.
            Kedua paham di atas, Salafi - Wahabi, sebenarnya ajaran asli dari Ibnu Abdil Wahab samasekali tidak ada unsur takfir maupun apapun yang sekarang dilakukan para pengikutnya. Banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang dilakuakan para pengikutnya, seperti yang tertulis dalam sebuah risalah beliau (Ibnu Abdil Wahab) kepada penduduk Al Qasim dan Al Suwaidi, bahwa: Semua kabar bahwa beliau (Ibnu Abdil Wahab) [1] Tidak mengikuti semua kitab madzhab, dengan artian tidak bermadzhab, padahal beliau mengakui sendiri bahwa beliau bermadzhab Hanbali. [2] Ulama’ sejak 600 tahun silam tidak menganut agama yang benar. [3] Mengklaim mampu berijtihad sendiri tanpa taqlid, dengan langsung kembali ke Al Qur’an dan As Sunnah. [4] Ikhtilaf ulama’ adalah bencana. [5] Mengkafirkan orang bertawassul dengan orang-orang shalih, dengan menganggapnya sebagai bid’ah (perkara baru yang diada-adakan) yang diharamkan dan dikategorikan sebagai kesesatan, betapapun bagusnya bentuk suatu kegiatan keagamaan tersebut, dengan dasar hadis Nabi Saw:
... وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ... رواه مسلم
“…Dan setiap bid’ah adalah kesesatan…”.  HR. Muslim
            Dan masih banyak lagi tuduhan yang tersebar bahwa itu semua adalah perkataan dan ajaran Ibnu Abdil Wahab, padahal semuanya itu kata beliau tidak benar dan semuanya adalah kebohongan yang dilakukan para pengikutnya dengan menisbatkan kepadanya. Beliau menjawab semua kabar bohong dan tuduhan tersebut dengan;
سُبْحَانَكَ هـٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ
Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur: 16)
B.     Bantahan kepada Salafi-Wahabi
            Dalam sebuah kata pengantarnya dalam buku Ulama’ Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj, MA. mengatakan bahwa “Tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang adalah: toleran, moderat, dan akomodatif. Bagi seorang muslim, keimanan yang hanya dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji (al-akhlaq al karimah).”
            Berjenggot panjang, memakai sorban dan bercelana di atas tumit, itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan ajaran islam dan telah menjadi yang paling benar.
Padahal sebenarnya keislaman seseorang itu tak hanya bisa dilihat dari simbolnya saja, melainkan dibutuhkan adanya aplikasi nyata akan ajaran islam. Karena tak hanya orag Islam yang bisa menggunakan symbol-simbol seperti itu namun banyak juga orang-orang kafir yang juga berjenggot, bersorban pun tak jarang juga orang fasik melakukannya, begitupun dengan berjubah atau menggunakan celana cingkrang juga telah dilakukan orang-orang jahat atau teroris. Sehingga Islam itu sendiri sekarang diidentikkan sebagai teroris, padahal islam samasekali tidak mengajarkan terorisme.
Sebagai Muslim kita memang harus memurnikan Tauhid dan hanya menyembah Allah semata. Kita juga harus mengikuti sunnah Nabi dan menghindari bid’ah. Sebaliknya kita juga harus menghindar dari paham khawarij takfiri yg mudah mengkafirkan/menganggap sesat sesama Muslim padahal menurut Jumhur Ulama tidak sesat. Karena mengkafirkan/menganggap sesama Muslim yg ternyata menurut mayoritas ulama lurus, dosanya juga besar.
Mengkafirkan sesama Muslim adalah tanda dari lemahnya Iman dan bisa jadi kita yg kafir/sesat jika Muslim yg kita tuduh kafir/sesat itu ternyata lurus:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : " ثَلاَثَةٌ مِنْ أَصْلِ الإِيمَانِ : الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ تُكَفِّرْهُ بِذَنْبٍ وَلاَ تُخْرِجْهُ مِنَ الإِسْلاَمِ بِعَمَلٍ "
Rasulullah SAW. bersabda: “Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan…” (HR. Abu Dawud)
Hadits di atas artinya jangan mengkafirkan seseorang hanya karena kita menduganya saja. Bukan dari pengakuan.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- " أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ. فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ "
Barangsiapa memanggil seseorang (muslim) dengan “hai kafir”. Maka ucapan itu kembali kepada salah satu di antara keduanya. Jika apa yang dikatakan itu benar, maka ucapannya itu tertuju kepada orang yang dipanggil. Jika tidak, maka ucapan itu tertuju kepada yang memanggil”.[HR Bukhari-Muslim]
C.    Wahabi Salafi Menurut Ulama Sunni Kontemporer
Gerakan Wahabi Salafi–yang dikenal dengan ideologi takfir (mengkafirkan, mem-bid’ah-kan, men-syirik-kan sesama muslim)– adalah gerakan yang mengklaim dirinya sebagai gerakan pemurnian akidah (tauhid) dan mengikuti langkah ulama terdahulu atau ulama salaf. Karena itu gerakan ini disebut dengan berbagai nama seperti Wahhabi merujuk pada nama pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahli Tauhid dan Salafi atau Wahabi Salafi. Di dunia Arab, mereka lebih sering disebut dengan istilah harakatul Wahhabiyah As-Saudiyah (حركة الوهابية السعودية) atau gerakan Wahabi Arab Saudi karena memang didirikan dan berpusat di Arab Saudi.
Berikut beberapa pendapat ulama Sunni non-Wahhabi kontemporer terhadap Wahabi Salafi:
1.      Al Maghfur Lah Habib Mundzir Al Musawa: “Al Bani bukanlah Muhaddits, bukan Hujjat Al Islam, bukan Al Hafidh, dan ia bukan pula Al Musnid.”
2.      Al Maghfur Lah Dr. Wahbah Az Zuhayli, mufti Suriah dan ahli fiqh produktif, menulis ensiklopedi fiqh 14 jilid berjudul (موسوعة الفقه الإسلامي) . Az Zuhayli mengatakan seputar Wahabi Salafi: “Mereka [Wahabi] adalah orang-orang yang suka mengkafirkan mayoritas muslim selain dirinya sendiri.”
3.      Al Maghfur Lah Dr. M. Sa’id Ramadlan Al Buthi, membongkar topeng Salafi-Wahabi, dalam bukunya “As Salafiyah Marhalah Zamâniyah Mubârakah Lâ Madzhab Islâmy” (Salafi adalah Periode Zaman Yang Diberkahi Bukan Madzhab Islam).
4.      Dr. Ali Jum’ah, mufti Mesir : “Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror.
5.      Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar : “Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada Manhaj Salaf.”
6.      Dr. Yusuf Qardlawi, intelektual Islam produktif dan ahli fiqh terkenal asal Mesir: “Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun Gerakan Wahabi di Ghaza, menurut Qardlawi, lebih suka memerangi dam membunuh sesama muslim daripada membunuh Yahudi.”
7.      Prof. Dr. Muhammad Al Ghazali: “Maaf, mereka hanya menjadi bencana bagi sunnah dan fitnah bagi Islam secara keseluruhan. Pada kenyataanya, sesungguhnya penyakit-penyakit jiwa ada pada mereka yang sangat fanatic itu…”
8.      Prof. Dr. Abdullah Al Ghumari: “Al Bani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan niliai suatu hadits, baik shahih ataupun dlaif. Ia telah mengubah hadits-hadits dengan sesuatu yang tidak boleh menurut ulama’ hadits…”
9.      Sayyid Hasan As Seggaf, melarang berpedoman pada kitab-kitab Al Bani, karena kesalahannya yang begitu banyak dalam menilai hadits.
10.  Syekh Hisyam Kabbani, ketua tariqah Naqshabandiyah dunia: Wahabi Salafi adalah gerakan neo-Khawarij. Yaitu aliran keras yang menghalalkan darah sesama muslim dan terlibat dalam pembunuhan khalifah ke-3 Utsman bin Affan.



RENUNGAN
يَأْتِيْ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ.
Kelak di akhir zaman akan lahir suatu kaum yang usianya muda dan bodoh, mereka mengatakan sebaik-baik perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.

Robitulhuda Muchlas
Sumber:
Majalah AULA edisi Februari 2016
              Meluruskan Vonis Wahabi (Bantahan Terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”)
              Pemahaman Yang Harus Diluruskan (ter. Mafâhim Yajibu an Tushahhah Karya Sayyid Muhammad Al Maliki)
              Pilih Islam atau Mazhab
              Shahih Bukhari
              Shahih Muslim
              Sunan Abi Dawud
              Ulama’ Sejagad Menggugat Salafi Wahabi

0 komentar:

Posting Komentar