Oleh: Yazid
Albusthomi
Sekilas, kehadiran suatau agama
dapat memicu pada pertentangan atau perpecahan diantara pengikutnya. Ini bisa
disebabkan karena di dalam ajaran Islam terdapat beragam perbedaan, baik itu
pada tatanan keyakinan (aqidah) maupun cara beribadah (syariat). Jika sederetan
perbedaan ini tidak ditempatkan secara proporsional dan seimbang, kemungkinan
besar akan terjadi benturan ideologi. Disinalah awal mulanya terbentuk kelompok
yang dengan seenaknya menuduh bid’ah kelompok yang dianggap benar oleh
sebagian.
Sesuatu yang diada-adakan oleh
manusia dalam urusan agama, itulah yang disebut bid’ah. Atau yang biasa dikenal,
suatu perbuatan baru yang belum pernah ada di zaman Rasulullah saw. dulu. Baik
bid'ah yang berkaitan dengan aqidah, maupun bid'ah yang berkaitan dengan amalan
(syariat). Bid'ah-bid'ah ini merupakan salah satu jenis perkara yang diharamkan.
Namun, berbeda dengan kemaksiatan yang biasa dilakukan ditengah masyarakat.
Sesungguhnya pelaku bid'ah ini berusaha
mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan perantara bid'ah-bid'ah tersebut, namun
ia mempunyai anggapan bahwa dengan bid'ahnya itu dia telah melakukan ketaatan
terhadap Allah swt. dan beribadah kepada-Nya. Dan inilah yang paling membahayakan.
Bid'ah bisa berupa keyakinan yang
bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan ajaran yang
terdapat di dalam Al-Qur’an. Dan bid'ah untuk jenis ini kita sebut dengan
bid'ah dalam segi aqidah (al-bid'ah al-i'tiqadiyyah) atau juga bisa
dikatakan bid'ah dalam ucapan (al-bid'ah al-qawliyyah). Tandanya, mereka
sering mengatakan sesuatu tentang Allah swt. yang tidak didasari dengan ilmu
pengetahuan.
Perkara ini termasuk salah satu perkara
haram yang sangat besar, kata Ibnu Qayyim. Allah swt. berfirman:
"Katakanlah; 'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang
nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia
tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah swt. dengan
sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan)
mengada-adakan terhadap Allah swt. apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. al-A'raf:
33)
Kedua macam bid'ah tersebut mempunyai
hubungan erat satu sama lain. Jarang sekali bid'ah yang terpisah satu dengan
lainnya. Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah pernah berkata, "Hakikat dikawinkannya
kekafiran dengan bid'ah adalah lahirnya kerugian di dunia dan akhirat". Bid'ah
lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena hal itu cenderung
bertentangan dengan nilai-nilai agama. Selain itu, orang yang melakukan bid'ah merasa
tidak perlu bertobat, dan kembali kepada jalan yang benar. Bahkan dia malah
mengajak orang lain untuk menjalankan bid'ah itu bersama-sama. Seluruh isi
bid'ah itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Allah swt. dan
Rasul-Nya. yakni menolak semua ajaran agama yang ada dan diakui kredibilitasnya
.
Ia mendukung orang-orang yang
memusuhi Islam, dan memusuhi orang-orang yang mendukungnya. Ia menetapkan apa
yang sudah di-nafi-kan oleh agama, dan me-nafi-kan apa yang telah
ditetapkan oleh agama.
Semua bid’ah yang ada tidak selalu
sama takarannya. Ada bid'ah yang berat dan ada pula bid'ah yang ringan. Ada
bid'ah yang disepakati dan ada pula bid'ah yang diperdebatkan. Bid'ah yang
berat ialah bid'ah yang dapat menjadikan pelakunya sampai kepada tingkat
kekufuran. Na’udzubillah.. Misalnya, kelompok-kelompok yang keluar dari
dogma-dogma Islam. Kelompok yang
termasuk dalam kategori ini antara lain; Nashiriyah, Druz, Syi'ah
Ekstrim dan Ismailiyah yang beraliran kebatinan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam
Ghazali: "Secara lahiriah mereka menolak, dan secara batiniah mereka kufur."
Ditambah dengan perkataan Syaikh Ibn Taimiyah, "Mereka lebih kufur daripada
orang Yahudi dan Nasrani, dan oleh sebab itu perempuan mereka tidak boleh
dinikahi, sembelihan mereka pun tidak boleh dimakan. Padahal sembelihan Ahli
Kitab boleh dimakan dan wanita mereka boleh dinikahi".
Ada juga bid’ah berat yang tidak
sampai membuat pelakunya menjadi kufur, namun, hanya sebatas fasiq. Yaitu fasiq
di bidang aqidah. Pelaku bid'ah macam ini kadang-kadang shalatnya paling lama
dibandingkan yang lain. Mereka mendapatkan banyak pahala karena banyak berpuasa
dan membaca al-Qur'an. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Khawarij.
Letak kerusakan mereka bukan pada
perasaan mereka, tapi pada akal pikiran mereka yang enggan dan membatu. Akibatnya,
mereka ‘hobi’ membunuh kalangan Islam sendiri tanpa diperintah dan membiarkan
orang-orang yang bersujud terhadap berhala. Khawarij tidak sendirian dalam
bid’ah macam ini, ada juga Rafidhah, Qadariyah, Mu'tazilah dan mayoritas
kelompok Jahmiyah, yang setia mengikutinya.
Ada bid'ah yang termasuk kategori
bid'ah yang ringan, biasanya bid’ah semacam ini berasal dari kesalahan dalam
melakukan ijtihad, atau salah dalam menggunakan dalil, bid'ah seperti ini sama dengan
dosa-dosa kecil yang sering kita kerjakan. Di samping itu, ada pula bid'ah yang
masih diperselisihkan. Artinya, ada kelompok yang menetapkan bahwa suatu
perkara termasuk bid'ah tetapi kaum Muslimin yang lainnya tidak mengatakan hal
itu bid'ah. Contohnya, tawassul kepada Rasulullah saw. dan hamba-hamba Allah swt.
yang salih. Perkara ini, kata Imam Hasan al-Banna dan dikutip oleh Imam
Muhammad bin Abdul Wahab, adalah amalan furu'iyah bukan termasuk masalah aqidah
dan pokok-pokok agama.
Sesungguhnya, bid'ah tidak berada
pada tingkatan yang sama, begitu pula orang yang melakukannya. Ada orang yang menganjurkan
untuk berbuat bid'ah (bid’ah hasanah) ada pula orang yang hanya sekadar
ikut melakukan bid'ah dan tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Semua
kelompok memiliki keterkaitan hukum yang berbeda-beda.
Sumber:
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi






0 komentar:
Posting Komentar