Recent Posts

Selasa, 29 Maret 2016

BID'AH DALAM AQIDAH

Oleh: Yazid Albusthomi

            Sekilas, kehadiran suatau agama dapat memicu pada pertentangan atau perpecahan diantara pengikutnya. Ini bisa disebabkan karena di dalam ajaran Islam terdapat beragam perbedaan, baik itu pada tatanan keyakinan (aqidah) maupun cara beribadah (syariat). Jika sederetan perbedaan ini tidak ditempatkan secara proporsional dan seimbang, kemungkinan besar akan terjadi benturan ideologi. Disinalah awal mulanya terbentuk kelompok yang dengan seenaknya menuduh bid’ah kelompok yang dianggap benar oleh sebagian.
            Sesuatu yang diada-adakan oleh manusia dalam urusan agama, itulah yang disebut bid’ah. Atau yang biasa dikenal, suatu perbuatan baru yang belum pernah ada di zaman Rasulullah saw. dulu. Baik bid'ah yang berkaitan dengan aqidah, maupun bid'ah yang berkaitan dengan amalan (syariat). Bid'ah-bid'ah ini merupakan salah satu jenis perkara yang diharamkan. Namun, berbeda dengan kemaksiatan yang biasa dilakukan ditengah masyarakat.
            Sesungguhnya pelaku bid'ah ini berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan perantara bid'ah-bid'ah tersebut, namun ia mempunyai anggapan bahwa dengan bid'ahnya itu dia telah melakukan ketaatan terhadap Allah swt. dan beribadah kepada-Nya. Dan inilah yang paling membahayakan.
            Bid'ah bisa berupa keyakinan yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dan bid'ah untuk jenis ini kita sebut dengan bid'ah dalam segi aqidah (al-bid'ah al-i'tiqadiyyah) atau juga bisa dikatakan bid'ah dalam ucapan (al-bid'ah al-qawliyyah). Tandanya, mereka sering mengatakan sesuatu tentang Allah swt. yang tidak didasari dengan ilmu pengetahuan.
            Perkara ini termasuk salah satu perkara haram yang sangat besar, kata Ibnu Qayyim. Allah swt. berfirman: "Katakanlah; 'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah swt. dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah swt. apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. al-A'raf: 33)
            Kedua macam bid'ah tersebut mempunyai hubungan erat satu sama lain. Jarang sekali bid'ah yang terpisah satu dengan lainnya. Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah pernah berkata, "Hakikat dikawinkannya kekafiran dengan bid'ah adalah lahirnya kerugian di dunia dan akhirat". Bid'ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena hal itu cenderung bertentangan dengan nilai-nilai agama. Selain itu, orang yang melakukan bid'ah merasa tidak perlu bertobat, dan kembali kepada jalan yang benar. Bahkan dia malah mengajak orang lain untuk menjalankan bid'ah itu bersama-sama. Seluruh isi bid'ah itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Allah swt. dan Rasul-Nya. yakni menolak semua ajaran agama yang ada dan diakui kredibilitasnya .
            Ia mendukung orang-orang yang memusuhi Islam, dan memusuhi orang-orang yang mendukungnya. Ia menetapkan apa yang sudah di-nafi-kan oleh agama, dan me-nafi-kan apa yang telah ditetapkan oleh agama.
            Semua bid’ah yang ada tidak selalu sama takarannya. Ada bid'ah yang berat dan ada pula bid'ah yang ringan. Ada bid'ah yang disepakati dan ada pula bid'ah yang diperdebatkan. Bid'ah yang berat ialah bid'ah yang dapat menjadikan pelakunya sampai kepada tingkat kekufuran. Na’udzubillah.. Misalnya, kelompok-kelompok yang keluar dari dogma-dogma Islam. Kelompok yang  termasuk dalam kategori ini antara lain; Nashiriyah, Druz, Syi'ah Ekstrim dan Ismailiyah yang beraliran kebatinan.
            Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali: "Secara lahiriah mereka menolak, dan secara batiniah mereka kufur." Ditambah dengan perkataan Syaikh Ibn Taimiyah, "Mereka lebih kufur daripada orang Yahudi dan Nasrani, dan oleh sebab itu perempuan mereka tidak boleh dinikahi, sembelihan mereka pun tidak boleh dimakan. Padahal sembelihan Ahli Kitab boleh dimakan dan wanita mereka boleh dinikahi".
            Ada juga bid’ah berat yang tidak sampai membuat pelakunya menjadi kufur, namun, hanya sebatas fasiq. Yaitu fasiq di bidang aqidah. Pelaku bid'ah macam ini kadang-kadang shalatnya paling lama dibandingkan yang lain. Mereka mendapatkan banyak pahala karena banyak berpuasa dan membaca al-Qur'an. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Khawarij.
            Letak kerusakan mereka bukan pada perasaan mereka, tapi pada akal pikiran mereka yang enggan dan membatu. Akibatnya, mereka ‘hobi’ membunuh kalangan Islam sendiri tanpa diperintah dan membiarkan orang-orang yang bersujud terhadap berhala. Khawarij tidak sendirian dalam bid’ah macam ini, ada juga Rafidhah, Qadariyah, Mu'tazilah dan mayoritas kelompok Jahmiyah, yang setia mengikutinya.
            Ada bid'ah yang termasuk kategori bid'ah yang ringan, biasanya bid’ah semacam ini berasal dari kesalahan dalam melakukan ijtihad, atau salah dalam menggunakan dalil, bid'ah seperti ini sama dengan dosa-dosa kecil yang sering kita kerjakan. Di samping itu, ada pula bid'ah yang masih diperselisihkan. Artinya, ada kelompok yang menetapkan bahwa suatu perkara termasuk bid'ah tetapi kaum Muslimin yang lainnya tidak mengatakan hal itu bid'ah. Contohnya, tawassul kepada Rasulullah saw. dan hamba-hamba Allah swt. yang salih. Perkara ini, kata Imam Hasan al-Banna dan dikutip oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab, adalah amalan furu'iyah bukan termasuk masalah aqidah dan pokok-pokok agama.
            Sesungguhnya, bid'ah tidak berada pada tingkatan yang sama, begitu pula orang yang melakukannya. Ada orang yang menganjurkan untuk berbuat bid'ah (bid’ah hasanah) ada pula orang yang hanya sekadar ikut melakukan bid'ah dan tidak mengajak orang lain untuk melakukannya. Semua kelompok memiliki keterkaitan hukum yang berbeda-beda.

Sumber: http://media.isnet.org/islam/Qardhawi

0 komentar:

Posting Komentar