PESANTREN SURGA WANITA SALEHAH
Jika
kalian adalah santriwati, maka janganlah malu dan risih atas identitas kalian
sebagai santriwati. Mengapa bisa demikian?. Coba kalian cermati kehidupan dan
gemerlap dunia luar, bagaimana rusaknya tatanan sosial serta bobroknya dan
kacau balaunya wanita-wanita yang hidup di luar sana. Mereka begitu bangganya
hidup dengan gaya dan style yang katanya trendi, modern dan gaul tanpa
memperdulikan apakah hal tersebut sesinergi dengan ajaran islam dan apakah hal
tersebut tidak memberikan dampak negatif kepada diri mereka sendiri?. Jangan
pernah silau terhadap gaya hidup bebas mereka, dan juga jangan pernah heran
terhadap kemewahan mereka, sebab mereka hidup tak ubahnya seperti binatang, dan
kemewahan yang mereka rasakan hanyalah bersifat sementara. Meraka asyik
berpacaran dan berduaan bersama laki-laki. Kemolekkan mereka di tampilkan untuk
konsumsi publik. Naluri kebintangan mereka telah menutupi naluri nalar
manusiawinya. Mereka tontonkan kepada masyarakat umum pornoaksi, membuat mereka
menjadi budak-budak hafsu belaka.
Mungkin
kalau kita analisa faktor utama yang menyebabkan semua itu adalah kurangnya
pengetahuan mereka perihal ilmu-ilmu agama. Islam mereka hanyalah berada di KTP
saja sehingga mereka begitu mudah terbawa arus budaya barat yang seolah modern
akan tetapi malah memebahayakan mereka dan menjadikan mereka semakin jauh dari
agama islam.
Lantas, kemudian muncul pertanyaan,
apakah solusi dan jalan yang jitu untuk menangani peristiwa tersebut?. Kalau
saya boleh menjawab pertanyaan tersebut, maka tentu saya akan berteriak sekuat
tenaga bahwa solusinya adalah pondok pesantren alias menjadi santriwati. Sebab,
selain pondok pesantren lebih bersifat tertutup jauh dari hingar bingar dunia
yang begitu hina, pesantren juga memberikan pengajaran khusus ilmu-ilmu agama
islam. Dengan ilmu agama islam itulah remaja muslimah kita diharapkan merenungi
lantas mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Remaja muslimah yang
hidup dalam pesantren “santriwati” akan memiliki jiwa yang kokoh dan
karakter mapan yang mampu menahan diri untuk tidak larut dan ikut-ikuttan
mengikuti gaya hidup barat. Santriwati akan selalu berperilaku sesuai dengan
ajaran islam, sehingga akan terpancar cahaya kecantikan dari luar dalam,
keikhlasan, kesederhanaan dan keistiqomahan. Puncaknya, remaja muslimah “santriwati”akan
bergelar shalehah yang pesona kecantikannya melebihi bahkan membuat iri
bidadari surga. Sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
إن
نساء الجنة من نساء الدنيا أفضل من الحورالعين
“Sesungguhnya
kecantikan dan keutamaan Muslimah salehah melebihi kecantikan dan keutamaan
bidadari surga yang bermata bening bak mutiara”.
Tak ada
yang lebih indah di dunia ini dalam menjalani kehidupan remaja selain menjadi
santriwati. Tak ada yang lebih cantik dan berkesan dalam pergaulan remaja ini
melebihi kecantikan santriwati yang hidup di pesantren dan di diajarkan
tentang kesederhanaan dan kebersamaan. Kesemuanya itu pasti akan melahirkan
embrio kecantikan jiwa yaitu akhlak mulia warisan sifat Khodjiah dan Aisyah RA
yang meliputi: Besarnya rasa malu, jujur, tidak suka menyakiti orang lain,banyak
beramal, jarang melakukan tindakan salah, sopan santun, penyabar, pemaaf,
pandai mengendalikan diri, menjaga diri dari hal negatif, santun dalam bergaul
dan masih banyak lagi hal baik lainnya.
Pada
akhirnya sosok santriwati haruslah bangga serta harus mempertahankan gelar atau status kesantriaannya dan pantang
terlena oleh arus budaya barat. Kuatkan hati dengan iman, tingkatkan
keintelektualan dengan ilmu pengetahuan, dan hiasi perilaku dengan amal. Allahumma
ijlna min ahlil ilmi wal ‘amal.Aaamiin.






0 komentar:
Posting Komentar