Recent Posts

Rabu, 13 April 2016

mengenal DeIslamisasi



Mengenal DEISLAMISASI
Oleh: Ahmad Yazid B.

deislamisasi
Sejak dulu kita sudah mengalami deislamisasi. Sayangnya kita tidak merasakannya dengan alasan ilmu pengetahuan kita masih belum sempurna. Namun sekarang, di zaman yang sudah serba digital ini, deislamisasi yang dilakukan para pembenci Islam di Barat kian menjadi-jadi. Semua mahakarya dunia yang berasal dari Islam dikaburkan sekabur-kaburnya agar tidak tampak keislamannya. Tujuan yang paling terbesar mereka adalah agar umat Islam tidak bangga dengan keislamannya. Banyak aspek yang sudah menjadi korban. Mulai dari tokoh-tokoh, peradaban, sains sampai sejarah banyak yang sengaja mereka bolak-balikkan faktanya.

Deislamisasi Sains
Kebanyakan ilmu sains yang kita kenal sekarang ini bersumber dari literatur-literatur Barat. Para tokohnya pun seakan tidak ada lagi selain dari orang-orang barat yang jelas bukan dari golongan kita. Kita hanya akrab dengan para ilmuwan dan para penemu dari Barat. Kita seakan tidak punya panutan Muslim dalam bidang-bidang yang bernuansa sains.
Padahal Muhammad bin Musa al-Khawarizmi merupakan salah satu ilmuwan yang sangat berjasa dalam bidang matematika. Beliau telah mengenalkan ilmu logaritma, rumus ABC, angka 0 sampai 9 dan aljabar kepada kita sejak dulu.
Jauh sebelum ilmuwan-ilmuwan Barat menciptakan kamera, ternyata Abu Ali bin Muhammad al-Hassan bin al-Hatsam seorang ilmuwan Muslim yang lahir di Bashrah ternyata sudah merumuskan prinsip-prinsip dasar kamera sekitar 10 abad sebelumnya. Bapak fisika modern yang dikenal dengan Ibnu al-Haitsam ini lebih dikenal oleh orang barat dengan nama Alhazen. Beliau dikenal oleh kalangan ilmuwan Barat karena telah memberikan banyak inspirasi pembuatan mikroskop dan teleskop kepada ahli sains barat yang kemudian mereka kembangkan dengan sedemikian canggih.
Jika Anda mengenal robot canggih sekaliber Doraemon, Anda harusnya juga mengenal pencetusnya. Dialah al-Jazari, seorang ilmuwan Muslim yang pernah mengembangkan prinsip hidrolik untuk penggerak mesin ribuan tahun lalu yang selanjutnya dikenal sebagai robot.
Selain beliau-beliau, masih banyak lagi ilmuwan Islam yang merumuskan berbagai macam keilmuwan dasar yang selanjutnya dikembangkan oleh banyak ilmuwan Barat. Di antaranya; Ibnu Sina yang menjadi rujukan para ilmuwan dalam bidang kedokteran, ilmu sejarah dan sosiologi yang dipakari oleh Ibnu Khaldun, pakar bedah oleh al-Zahrawi, al-Jahiz yang mempunyai prinsip dasar ilmu tentang kehewanan, pakar ilmu filosofi dari al-Farabi, rumus-rumus dan kode-kode astronomi yang ditelurkan al-Biruni, dan masih banyak yang lainnya.
Mereka adalah diantara sekian banyak ilmuwan Muslim yang sangat menginspirasi para ilmuwan Barat untuk melakukan berbagai penemuan baru. Sayangnya, kebanyakan umat Islam seakan tidak peduli dengan hal ini. Meskipun berbagai pusat studi agama Islam sekarang kian menjamur, penghinaan-penghinaan tehadap Islam juga menjamur di sana. Agama tetap diposisikan sebagai produk budaya. Bahkan, agama dan Tuhan harus tunduk di hadapan kerangka berpikir manusia. Dengan kata lain manusialah yang mengatur Tuhan.
Yang akhirnya terjadilah deislamisasi ilmu. Disini digarisbawahi ilmu sains. Seolah sains yang sekarang ada itu tidak ada kaitannya dengan keyakinan kita. Dari situ, terbentuklah sekularisme pendidikan.

Deislamisasi Sejarah
Mungkin yang lebih kita kenal penemu benua Amerika adalah Christopher Columbus, bukan pelaut Muslim dari Cina, Laksaman Cheng Ho. Banyak pula yang menganggap Pattimura itu Thomas M. yang beragama nasrani, bukan Ahmad Lussy beragama Islam.
Pembelokan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang beraliran sekuler disebabkan kebenciaannya terhadap Islam sudah mendarahdaging. Tujuannya lagi-lagi hanya satu, agar kita tidak pernah bangga dengan romantika kejayaan agama kita, Islam.
Nah, sejarawan ulung Barat sadar bahwa umat Islam punya bongkahan harta sejarah yang bisa digali terus-menerus dan menginspirasi kaum Muslimin santero dunia. Karena itu, mereka melakukan berbagai macam cara agar terlepas dari nilai-nilai ke-Islam-an. Mereka umumkanlah di belahan bumi Islam bahwa khalifah adalah raja yang diktator. Kerajaan sadis yang selalu menang melawan musuh-musuhnya. Selain itu, pahlawan-pahlawan nasional Muslim yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaaan juga dikaburkan jasa-jasanya.
Sebut saja Sisingmanggaraja XII, dari Sumatera Utara dan Pattimura yang mereka ‘murtadkan’ status ke-Islam-annya oleh para sejarawan. Pada penyusunan Piagam Jakarta dan Pancasila, peran KH. Wahid Hasyim (NU) dan Ki Bagoes Hadikoesoemo (Muhammadiyah) sengaja tidak disebutkan dalam buku-buku sejarah. Peran KH. Ahmad Dahlan sebagai pelopor pendidikan di pribumi juga sudah digantikan oleh Ki Hadjar Dewantara yang kemudian diangkat sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.
Akhirnya, semangat untuk memajukan bangsa dan negara yang semula dibangun atas dasar tauhid dan keimanannya pada Yang Maha Esa oleh para ulama terdahulu, kini sudah bergeser pada nilai nasionalisme dan sekularisme semata. Mirisnya, umat Islam seakan menikmati ketenggelamannya dalam manipulasi sejarah.
Melihat kenyataan ini, seharusnya hati kita tergerak untuk melakukan perubahan dan pembaharuan. Kita harus membudayakan kajian keilmuan dengan membaca, diskusi, menulis dan mengaji. Terutama dalam bidang sejarah agar kita benar-benar bisa mengembalikan sejarah kejayaan Islam. Akhirnya, bukan hanya kebahagiaan dunia yang kita dapat, tetapi kebahagiaan di akhirat yang kekal dan abadi selamanya juga kita raih.[*]

0 komentar:

Posting Komentar