Mengenal DEISLAMISASI
Oleh:
Ahmad Yazid B.
![]() |
| deislamisasi |
Sejak dulu kita sudah mengalami
deislamisasi. Sayangnya kita tidak merasakannya dengan alasan ilmu pengetahuan
kita masih belum sempurna. Namun sekarang, di zaman yang sudah serba digital
ini, deislamisasi yang dilakukan para pembenci Islam di Barat kian
menjadi-jadi. Semua mahakarya dunia yang berasal dari Islam dikaburkan
sekabur-kaburnya agar tidak tampak keislamannya. Tujuan yang paling terbesar
mereka adalah agar umat Islam tidak bangga dengan keislamannya. Banyak aspek
yang sudah menjadi korban. Mulai dari tokoh-tokoh, peradaban, sains sampai
sejarah banyak yang sengaja mereka bolak-balikkan faktanya.
Deislamisasi Sains
Kebanyakan ilmu sains yang kita kenal
sekarang ini bersumber dari literatur-literatur Barat. Para tokohnya pun seakan
tidak ada lagi selain dari orang-orang barat yang jelas bukan dari golongan
kita. Kita hanya akrab dengan para ilmuwan dan para penemu dari Barat. Kita
seakan tidak punya panutan Muslim dalam bidang-bidang yang bernuansa sains.
Padahal Muhammad bin Musa al-Khawarizmi
merupakan salah satu ilmuwan yang sangat berjasa dalam bidang matematika.
Beliau telah mengenalkan ilmu logaritma, rumus ABC, angka 0 sampai 9 dan
aljabar kepada kita sejak dulu.
Jauh sebelum ilmuwan-ilmuwan Barat menciptakan
kamera, ternyata Abu Ali bin Muhammad al-Hassan bin al-Hatsam seorang ilmuwan
Muslim yang lahir di Bashrah ternyata sudah merumuskan prinsip-prinsip dasar
kamera sekitar 10 abad sebelumnya. Bapak fisika modern yang dikenal dengan Ibnu
al-Haitsam ini lebih dikenal oleh orang barat dengan nama Alhazen. Beliau
dikenal oleh kalangan ilmuwan Barat karena telah memberikan banyak inspirasi
pembuatan mikroskop dan teleskop kepada ahli sains barat yang kemudian mereka
kembangkan dengan sedemikian canggih.
Jika Anda mengenal robot canggih
sekaliber Doraemon, Anda harusnya juga mengenal pencetusnya. Dialah al-Jazari,
seorang ilmuwan Muslim yang pernah mengembangkan prinsip hidrolik untuk
penggerak mesin ribuan tahun lalu yang selanjutnya dikenal sebagai robot.
Selain beliau-beliau, masih banyak lagi
ilmuwan Islam yang merumuskan berbagai macam keilmuwan dasar yang selanjutnya
dikembangkan oleh banyak ilmuwan Barat. Di antaranya; Ibnu Sina yang menjadi
rujukan para ilmuwan dalam bidang kedokteran, ilmu sejarah dan sosiologi yang
dipakari oleh Ibnu Khaldun, pakar bedah oleh al-Zahrawi, al-Jahiz yang
mempunyai prinsip dasar ilmu tentang kehewanan, pakar ilmu filosofi dari
al-Farabi, rumus-rumus dan kode-kode astronomi yang ditelurkan al-Biruni, dan
masih banyak yang lainnya.
Mereka adalah diantara sekian banyak
ilmuwan Muslim yang sangat menginspirasi para ilmuwan Barat untuk melakukan
berbagai penemuan baru. Sayangnya, kebanyakan umat Islam seakan tidak peduli
dengan hal ini. Meskipun berbagai pusat studi agama Islam sekarang kian
menjamur, penghinaan-penghinaan tehadap Islam juga menjamur di sana. Agama
tetap diposisikan sebagai produk budaya. Bahkan, agama dan Tuhan harus tunduk
di hadapan kerangka berpikir manusia. Dengan kata lain manusialah yang mengatur
Tuhan.
Yang akhirnya terjadilah deislamisasi
ilmu. Disini digarisbawahi ilmu sains. Seolah sains yang sekarang ada itu tidak
ada kaitannya dengan keyakinan kita. Dari situ, terbentuklah sekularisme
pendidikan.
Deislamisasi Sejarah
Mungkin yang lebih kita kenal penemu
benua Amerika adalah Christopher Columbus, bukan pelaut Muslim dari Cina,
Laksaman Cheng Ho. Banyak pula yang menganggap Pattimura itu Thomas M. yang
beragama nasrani, bukan Ahmad Lussy beragama Islam.
Pembelokan sejarah yang dilakukan oleh
orang-orang beraliran sekuler disebabkan kebenciaannya terhadap Islam sudah
mendarahdaging. Tujuannya lagi-lagi hanya satu, agar kita tidak pernah bangga
dengan romantika kejayaan agama kita, Islam.
Nah, sejarawan ulung Barat sadar bahwa
umat Islam punya bongkahan harta sejarah yang bisa digali terus-menerus dan
menginspirasi kaum Muslimin santero dunia. Karena itu, mereka melakukan
berbagai macam cara agar terlepas dari nilai-nilai ke-Islam-an. Mereka
umumkanlah di belahan bumi Islam bahwa khalifah adalah raja yang diktator.
Kerajaan sadis yang selalu menang melawan musuh-musuhnya. Selain itu,
pahlawan-pahlawan nasional Muslim yang mengantarkan Indonesia menuju
kemerdekaaan juga dikaburkan jasa-jasanya.
Sebut saja Sisingmanggaraja XII, dari
Sumatera Utara dan Pattimura yang mereka ‘murtadkan’ status ke-Islam-annya oleh
para sejarawan. Pada penyusunan Piagam Jakarta dan Pancasila, peran KH. Wahid
Hasyim (NU) dan Ki Bagoes Hadikoesoemo (Muhammadiyah) sengaja tidak disebutkan
dalam buku-buku sejarah. Peran KH. Ahmad Dahlan sebagai pelopor pendidikan di
pribumi juga sudah digantikan oleh Ki Hadjar Dewantara yang kemudian diangkat
sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.
Akhirnya, semangat untuk memajukan
bangsa dan negara yang semula dibangun atas dasar tauhid dan keimanannya pada
Yang Maha Esa oleh para ulama terdahulu, kini sudah bergeser pada nilai
nasionalisme dan sekularisme semata. Mirisnya, umat Islam seakan menikmati
ketenggelamannya dalam manipulasi sejarah.
Melihat kenyataan ini, seharusnya hati
kita tergerak untuk melakukan perubahan dan pembaharuan. Kita harus
membudayakan kajian keilmuan dengan membaca, diskusi, menulis dan mengaji.
Terutama dalam bidang sejarah agar kita benar-benar bisa mengembalikan sejarah
kejayaan Islam. Akhirnya, bukan hanya kebahagiaan dunia yang kita dapat, tetapi
kebahagiaan di akhirat yang kekal dan abadi selamanya juga kita raih.[*]







0 komentar:
Posting Komentar