Alhamdulillah, Terlihat....
Oleh: Yazid al Busthomi
![]() |
| rukyah |
Jam 7 pagi, bersama teman-teman sekelas saya berangkat untuk praktek rukyatul hilal. Kegiatan yang ditunggu-tunggu selama tiga tahun. Oleh siswa tingkatan tsanawiyah. Sebelum sampai tempat tujuan, kami mampir ke masjid kebanggaan warga Surabaya. Masjid al-Akbar. Masjid yang luasnya bisa dihuni 60 ribuan orang. Sekedar untuk sarapan dan foto-foto bersama para asatidz. Yang tadi sampai lebih dulu di sini. Sepertinya hanya kali ini mereka mampir ke sini. Kemudian bersantai. Ada yang sedang khusyu’ dalam sholat dhuhanya.
Setelah satu
jam lebih di situ, kami kembali meluncur ke makam Raden Rachmatullah.
Waliyullah yang kita kenal dengan sebutan Sunan Ampel. juga di Surabaya. Sampai
di sana kami langsung menyerbu para pedagang oleh-oleh khas Surabaya. Tidak
jauh beda dengan oleh-oleh khas Pasuruan. Demi membahagiakan teman-teman di
Ma’had.
Yang tidak
tertarik dengan jajanan Surabaya, langsung menuju masjid. Bersantai di masjid.
Menunggu pelaksanaan shalat jum’at. Adzan berkumandang. Kami shalat
berpencaran. Sampai ke segala penjuru masjid. Kami mendapat instruksi untuk
berkumpul dan tawassul di makam. Oleh ketua panitia. Dari ustad senior, H.
Ashfihani Faqih. Selepas shalat.
Serangkaian
acara tahlil dan belanja di Sunan Ampel telah selesai. Kembali duduk di bus
selama kurang lebih tiga jam nantinya. Menyantap hidangan dari panitia
konsumsi. Kemudian tidur. Menyimak lagu dari suguhan sang kondektur. Sebagian
memandang keluar jendela. Berharap apa yang terjadi nanti setelah serunya
simulasi rukyatul hilal kemarin.
Akhirnya
kami sampai di lokasi TKP. Telat 20 menit memang dari jadwal. Di sini kami
tinggal memasang peralatan. Di tempat
yang kata sebagian orang tidak layak. Ustadz ‘Inwanuddin yang sedari tadi
menunggu terus memberi semangat. Tanpa lelah. Satu jam lebih kami menunggu
munculnya hilal. Ada yang bosan. Hampir menyerah. Ada yang tetap semangat.
Serius. Juga ada yang tidak berhenti guyonan. Alasan menghilangkan
penat. Biarlah. Selain tujuan utama perjalanan ini adalah rukyatul hilal, yang
menganggap perjalanan ini sebagai senang-senang juga ada. Seperti guyonan
sebagian ustadz; rekreasi.
“ITU..” di
sela-sela ketidakseriusan kami dalam mengamati hilal, ustadz ‘Inwan berteriak
sambil bertakbir menunjuk arah di mana hilal berada. Kami senang. Bahagia. Hampir
semua melihatnya. Syukurlah. Mungkin karena mereka belum mengerti bentuknya.
Tidak yakin atas temuannya itu. 10 menit berselang dari kejadian yang menurut
saya itu menakjubkan. Kemudian hilang. Selesai. Peralatan yang kami bawa mulai
dibereskan masing-masing kelompok. Memasukkannya ke bagasi. Dan pulang.
Pulang dari
nonton hilal di Lamongan, kami mampir ke Pondok Pesantren Mamba‘us Sholihin di
Gresik. Bersantai-santai. Dan sholat. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam
bersama. Di resto Mamba‘us Sholihin.
Dilanjutkan
dengan ritual sowan ke pengasuh PonPes yang diwakili ustadz H. Ashfihani faqih.
Adik kandung pimpinan tertinggi Mamba‘us Sholihin. Beliau menetap di sana
sebentar untuk beberapa waktu. Ada urusan keluarga katanya. Kami berpamitan
pulang. Terima kasih atas jamuannya dan mau menerima kami sebagai tamu.
Kami pulang.
Capcus ke ma’had tercinta. Salafiyah. Sampai pada pukul 00.35 ist.







0 komentar:
Posting Komentar