Recent Posts

Rabu, 02 November 2016

ISLAM ANTI PLURALISME AGAMA



ISLAM ANTI PLURALISME AGAMA
Kajian Seputar Pemurnian Agama, dari Pemikiran Para Pemikir-pemikir Modern Tentang Statement Pluralisme Agama dengan Berdalih Islam Rahmatan lil ‘Âlamîn, Toleransi Beragama dan Realisasi Wacana Islam Progresif
Oleh: Robitulhuda Muchlas
بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً...
Sampaikanlah apa-apa (pengetahuan atau ilmu) dariku meski hanya satu ayat...”.[1]
            Adalah sebuah ungkapan sederhana dari lisan Manusia Termulia, Manusia Yang Merupakan Makhluk Termulia dari era permulaan alam semesta diciptakan hingga kelak hari hancurnya alam semesta, yakni junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. namun memiliki peran yang sangat vital dalam perkembangan Bendera Allah (Islam).
            Kiranya, ungkapan cuplikan hadits tersebut yang pantas kami jadikan sebagai motivasi kami dalam penulisan sebuah karya sederhana mengenai Spekulasi Pluralisme Agama, yang dilakukan oleh oknum-oknum yang berhaluan Liberal atau Plural. Karena jika kami diam saja menghadapi zaman di mana manusia sudah mulai mengutak-atik kesucian Islam dengan penafsiran sesat terhadap ayat-ayat al Quran, itu berarti kita membiarkan Bendera Allah (Islam) tak lagi berkibar bahkan membiarkannya jatuh terinjak-injak oleh kaki-kaki orang-orang yang mengaku cinta Islam namun pada hakikatnya ingin menghancurkan Islam.
            Karenanya kami di sini mencoba memaparkan ayat-ayat al Quran yang dapat membantah atau menyanggah spekulasi mereka (oknum-oknum yang berhaluan Liberal ataupun Plural) bahwa agama apapun itu benar, bukan hanya Islam, dan penganut agama apa saja berhak mendapatkan janji Allah (kebahagiaan akhirat), jika mereka melakukan kebajikan, bukan hanya mereka yang Muslim.
Allah berfirman;
1.      QS. Al Baqarah
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)
Dan jika kamu meragukan (Al Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
            Dari ayat tersebut, apa yang menjadi spekulasi dari orang-orang Pluralis, bahwa semua penganut agama baik itu Islam, Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya adalah sama, yakni sama-sama berhak mendapat kebahagiaan di sisi Allah, dengan syarat beramal saleh, dan jika berbuat kerusakan maka disebut telah murtad atau kafir. Dapat terpatahkan dengan ayat tersebut. Sebab mereka (penganut agama selain Islam) sama sekali tidak memantapkan (beriman) terhadap Al Quran. Sebab, orang dikatakan mu’min jika beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat, Rasul-rasul, Kitab-kitab (yang Allah turunkan kepada nabi Musa, Dawud, Isa, dan Muhammad), Hari Akhir, dan Takdir (ketentuan Allah) baik dan buruknya. Sedangkan mereka orang-orang selain Islam tidak beriman dengan keenam rukun tersebut.
وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
Sudah barang tentu yang dimaksud ayat ini adalah kafir bukan versi Liberalis atau Pluralis. Karena di situ jelas bahwa mereka yang “mendustakan ayat-ayat Kami” akan kekal di neraka.
وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41)
Dan berimanlah kamu kepada apa (Al Quran) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, [2]  dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya.[3] Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah, dan bertakwalah kepada Allah.
            Sudah sangat jelas, bahwa mereka para penganut agama selain Islam tidaklah mengamalkan apa yang terdapat dalam kitabnya masing-masing, artinya mereka hanya membacanya namun tidak mengimaninya. Apalagi sampai beriman kepada Al Quran. Padahal dalam kitabnya disebutkan bahwa kelak akan ada nabi terakhir dengan kitabnya yang akan membenarkan ajaran dalam kitab Taurat. Apakah pantas mereka masih dikategorikan orang yang selamat kelak di akhirat seperti spekulasi para Pluralis?
وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (42)
Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.
            Di situ jelas bahwa mereka (non Muslim) kufur atau ingkar terhadap kebenaran yang termuat dalam kitab-kitabnya. Padahal kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa hanya Allah semata yang pantas disembah, akan terutusnya nabi terakhir yakni Muhammad, Isa tak lain hanyalah seorang utusan sebagaimana utusan-utusan (Rasul-rasul) sebelum mereka seperti yang tertera dalam Injil bahwa Isa (Yesus) mengajarkan umatnya menyembah hanya kepada Allah semata, dan Allah adalah tuhannya. Di injil tertera: “Dengarkanlah..! Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.. bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan: 4 : 35) dan juga dalam Markus: 12 : 29 “Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa”. Apakah pantas penganut agama yang mengingkari ajaran agamanya sendiri yang tertera dalam kitab sucinya masih pantas mendapatkan kebahagiaan di Akhirat?
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shâbi’în[4], siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.[5]
            Ayat tersebut menjelaskan secara gamblang bahwa, orang yang beramal saleh tapi tidak disertai degan Iman kepada Allah dan hari akhir, yang mana hal itu menjadi kunci diterimanya amal mereka. Sedangkan menurut para Pluralis, meskipun non Muslim tapi melakukan suatu perbuatan terpuji maka baginya pahala dari Allah, dan selamat di akhirat kelak.
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79)
Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah.”[6] (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.[7]
            Sudah sangat jelas bahwa Allah sangat murka terhadap orang-orang Yahudi, yang mana mereka menulis kitab karangan sendiri dengan menisbatkan pada Allah, hal ini bertujuan menjual dengan harga murah untuk merendahkannya. Masihkah pantas mereka itu layak disetarakan dengan Islam?
وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82)
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.[8]
            Dalam ayat tersebut sudah sangat jelas adanya qayyid atau batasan bagi siapa saja yang beriman kepada Allah. Sekarang kita amati, apakah orang-orang Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Shinto, ataupun yang lain, apakah mereka semua beriman kepada Allah? Apakah amal saleh yang mereka lakukan telah sesuai dengan tuntunan syari’at?
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (83)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.[9] Serta bertutur katalah baik kepada manusia.[10] Laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.
            Janji orang-orang Bani Israel yang diambil Allah yang berupa larangan menyembah selain Allah telah dilanggar mereka sendiri. Orang Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya apakah juga tidak luput dari melangar janji tersebut?
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آَمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (91)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran),” mereka menjawab: “Kami beriman kepada yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (Al Quran) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad): “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang yang beriman?”.
            Orang-orang Bani Israel mengatakan bahwa mereka beriman kepada Taurat. Orang-orang pluralis berspekulasi bahwa orang-orang Yahudi maupun Nasrani sama saja dengan Islam. Padahal samasekali tidak sama, mereka hanya beriman kepada Taurat dan Injil saja, yang sudah tidak asli. Sedangkan kita mengimani keempat kitab suci Allah. Dan lagi, orang-orang Nasrani maupun Yahudi, sudah tidak seorisinil dengan Nasrani dan Yahudi tempo dulu.
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (96)
Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orangYahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.
            Ayat tersebut menandakan bahwa tidak sepatutnya penganut agama Yahudi disamakan dengan kita, penganut agama Islam. Karena mereka adalah penganut yang selalu tamak akan dunia, yang bahkan melebihi ketamakan para Musyrikin.
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111)
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah: Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.
            Allah menceritakan tatkala orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku bahwa dirinya benar dan kelak akan masuk surga. Tapi Allah justru memerintah nabi Saw. untuk menyanggahnya dan menyuruh mereka memaparkan bukti kebenaran mereka. Kaum Pluralis mengatakan (Yahudi maupun Nasrani) bisa masuk surga. Padahal sudah jelas dalam ayat tersebut Allah menilai mereka adalah orang-orang yang sesat dan yang dibenci Allah, sehingga hanya impian mereka saja bisa masuk surga-Nya.
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ (120)
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak (akan) rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.
            Firman tersebut sangatlah mempertegas bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nasrani selamanya menjadi musuh kita, selama kita tidak mengikuti ajaran mereka. Dan ini sangatlah terbukti. Buktinya adalah kini dunia tengah dikuasai oleh kekuatan besar yakni kaum Zionis Yahudi (Amerika Serikat dan Israel). Kedua negeri itu tengah menyusun rencana besar untuk bisa menguasai dunia dan menghancurkan kaum Muslim.
            Negeri baru Israel Raya yang merupakan negeri yang mempunyai cita-cita menyongsong Tanah Yang dijanjikan Tuhan kepada Abram untuk keturunannya (Yahudi). Yang mana tanah itu meliputi Mesir hingga Irak. Akan tetapi bangsa Zionis mengikuti filosofi Makan Kacang, yang awalnya orang hanya memakan kacang-kacang yang besar saja, akan tetapi karena yang besar telah habis maka yang kecilpun disikat habis. Itulah yang dilakukannya terhadap negeri-negeri Timur Tengah.
            Berbagai cara yang telah dan akan dilakukan Israel Raya demi mewujudkan cita-citanya tersebut. Termasuk menyebarkan fitnah di negeri-negeri Timur Tengah, yang bertujuan agar negeri-negeri tersebut saling berperang dan saling membunuh, dan akhirnya kehancuranlah yang akan melanda negeri-negeri Timur Tengah dan melupakan negeri Palestina yang notabene adalah saudaranya sendiri.
            Tidak hanya dengan penjajahan fisik saja yang dilakukan bangsa Zionis demi mewujudkan proyek besarnya yakni menguasai dunia, melainkan bermacam-macam cara. Dengan menguasai berbagai media, yakni mereka memposting apa-apa dari hasil ideology mereka, membatasi tayangan-tayangan yang bermutu (Islami), menayangkan berbagai acara yang dapat merusak moral umat. Menguasai bidang politik dunia, yaitu dengan menunjuk orang bodoh yang tidak berpengalaman dalam masalah pemerintahan sebagai kepala atau pemimpin Negara agar mudah untuk diatur, inilah yang disebut dengan “Presiden Boneka”. Mendirikan berbagai perusahaan besar atau pabrik-pabrik yang didirekturi oleh orang-orangnya sendiri di berbagai daerah, dengan tujuan agar bisa menguasai pasar dunia (ekonomi dunia). Dari semuanya itulah system penjajahan yang dilakukan mereka telah berhasil menyita perhatian berjuta-juta mata di seluruh dunia dan anehnya para korban penjajahan tidak merasa bahwa mereka telah dijajah oleh bangsa Zionis (Amerika Serikat dan Israel).
            Ini semua adalah buah pikir dari bangsa Zionis Yahudi yang tak lain mereka itu adalah musuh yang tidak akan pernah suka atau ridha kepada umat Islam, apalagi sampai dunia dikuasai oleh umat Islam.[11]
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمن يَكْفُرْ بِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (121)
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya,[12] mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang merugi.
            Membacanya Sebagaimana Mestinyaadalah membaca Kitab Allah dengan tidak mengubah sedikitpun darinya, dan mengamalkan apa-apa yang tertera darinya. Jika hal itu dilakukan dengan sebenar-benarnya niscaya termasuk kategori beriman padanya dengan sebenar-benarnya.
            Orang-orang Nasrani maupun Yahudi, samasekali tidak termasuk dalam kategori “Membacanya Sebagaimana Mestinya”, karena itulah mereka tidak sepatutnya disamakan dengan umat Muslim. Mereka bukan hanya tidak mengamalkan isi kandungan dari Taurat maupun Injil, bahkan mereka telah berani mengubah. Bukan hanya bacaan, melainkan lafadh (kalimat) yang Allah firmankan.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126)
"Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian," Dia (Allah) berfirman, "Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.""
            Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa Allah sangat sentiment terhadap mereka yang tidak beriman kepada-Nya.
            Jika Allah saja sudah jelas-jelas sentiment terhadap orang-orang kafir, lalu apa dasar para kaum Pluralis mengatakan bahwa semua agama benar, semua penganut agama apapun layak mendapatkan pahala sehingga bisa masuk ke surga-Nya, asalkan melakukan amal saleh?
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132)
"Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya,[13] demikian pulaYa'kub. "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim"."
Artinya, berbuat baiklah selama hidup kalian, dan berpegang teguhlah kepada agama ini agar kalian diberi rezeki wafat dalam keadaan berpegang teguh. Karena manusia itu biasanya meninggal dunia dalam keadaan memeluk agama yang dijalankannya, dan kelak dibangkitkan berdasarkan agama yang ia bawa mati.
Mereka (Kaum Yahudi) mengaku keturunan Ibrahim as. namun kenyataannya mereka tidak mau mengikuti apa yang telah diwasiatkan beliau kepada para keturunanya.

Bersambung…


[1] HR. Bukhari, Anbiya' Bab 50,, Tirmidzi, Ilmu Bab 13,, Ahmad bin Hanbal Vol. 2 Hal. 159, 202, 214,, Darimi, Muqaddimah Bab 46.
[2] Maksudnya adalah kebenaran akan datangnya nabi Muhamad Saw. sebagaimana yang telah tertulis dalam kitab Taurat.
[3] Menurut Ibnu Abbas dan Ath Thabari, yang dimaksud “kafir kepadanya” adalah kepada Al Quran. Sedangkan menurut Ibnu Aliyah maknanya adalah kufur terhadap Muhammad.
[4] Tentang Shâbi’în para ulama’ berbeda pendapat. Mujahid mengatakan maksudnya adalah mereka yang bukan Majusi, bukan Yahudi dan bukan Nasrani. Wahab bin Muanabbih mengatakan mereka adalah orang-orang yang mengakui keesaan Allah, tetapi tidak mempunyai agama yang diamalkan mereka.
[5] Maksudnya sebelum kedatangan Islam, kaum Yahudi, Nasrani, dan Shâbi’în yang beriman kepada Nabi yang diutus kepada  mereka. Setelah ayat ini, turunlah surah Ali Imran ayat 85 yang menyebutkan bahwa, setelah kedatangan Islam, Allah SWT. Tidak akan menerima amal seseorang yang tidak sesuai dengan syari’at Islam
[6] Ini merupakan sifat yang melekat pada diri orang-orang Yahudi. Mereka mereka menyeru kepada kesesatan dengan berbagai kebohongan dan dusta. Mereka memakan harta milik orang lain dengan jaln yang bathil.
[7] Sebagian orang Yahudi menulis kitab berdasarkan karangan mereka sendir. Mereka memperjual belikannya dengan mengatakan bahwa kitab tersebut bersumber dari Allah Swt. Demi mendapatkan keuntungan yang “sedikit”. Mereka mendapat kecelakaan, kebinasaan, kesulitan, dan keburukan yang sangat buruk.
[8] Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, melakukan amal saleh sesuai dengan tuntunan syari’at maka dia akan menjadi penghuni surga.
[9] Al Yatama artinya anak-anak kecil yang tidak memiliki orang tua yang menjamin penghidupan mereka. Al Masakin ialah orang yang tidak mempunyai biaya untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.
[10] Maksudnya, berkatalah kepada mereka dengan baik dan lemah lembut; termasuk dalam hal ini adalah amar ma’ruf dan nahi munkar  dengan cara yang ma’ruf.
[11] Robitulhuda Muchlas; Buah Pikir Kaum Zionis: Salafiyah: Buletin Nasyath. Edisi: 5.
[12] Yaitu menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram dan membacanya sebagaimana yang diturunkan Allah Swt. dengan tidak mengubah kalimat dari tempatnya masing-masing serta tidak mentakwilkannya kepada takwil yang tidak seharusnya.
[13] Maksud dari ucapan wasiat (ucapan) tersebut ialah, ayat sebelumnya yakni (QS. Al Baqarah: 131). Yang artinya: (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), "Berserah dirilah!" Dia menjawab: "Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.".

0 komentar:

Posting Komentar