ISLAM ANTI PLURALISME AGAMA
Kajian Seputar Pemurnian Agama, dari Pemikiran
Para Pemikir-pemikir Modern Tentang Statement Pluralisme Agama dengan Berdalih Islam Rahmatan lil ‘Âlamîn, Toleransi Beragama dan Realisasi Wacana Islam
Progresif
Oleh: Robitulhuda Muchlas
بَلِّغُوْا
عَنِّي وَلَوْ آيَةً...
“Sampaikanlah apa-apa (pengetahuan atau
ilmu) dariku meski hanya satu ayat...”.[1]
Adalah
sebuah ungkapan sederhana dari lisan Manusia Termulia, Manusia Yang Merupakan
Makhluk Termulia dari era permulaan alam semesta diciptakan hingga kelak hari hancurnya
alam semesta, yakni junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. namun memiliki
peran yang sangat vital dalam perkembangan Bendera Allah (Islam).
Kiranya,
ungkapan cuplikan hadits tersebut yang pantas kami jadikan sebagai motivasi
kami dalam penulisan sebuah karya sederhana mengenai Spekulasi Pluralisme
Agama, yang dilakukan oleh oknum-oknum yang berhaluan Liberal atau Plural.
Karena jika kami diam saja menghadapi zaman di mana manusia sudah mulai
mengutak-atik kesucian Islam dengan penafsiran sesat terhadap ayat-ayat al
Quran, itu berarti kita membiarkan Bendera Allah (Islam) tak lagi berkibar
bahkan membiarkannya jatuh terinjak-injak oleh kaki-kaki orang-orang yang
mengaku cinta Islam namun pada hakikatnya ingin menghancurkan Islam.
Karenanya
kami di sini mencoba memaparkan ayat-ayat al Quran yang dapat membantah atau
menyanggah spekulasi mereka (oknum-oknum yang berhaluan Liberal ataupun Plural)
bahwa agama apapun itu benar, bukan hanya Islam, dan penganut agama apa saja
berhak mendapatkan janji Allah (kebahagiaan akhirat), jika mereka melakukan kebajikan,
bukan hanya mereka yang Muslim.
Allah berfirman;
1.
QS. Al Baqarah
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا
عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءَكُم مِّن
دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)
“Dan jika kamu meragukan (Al Quran) yang Kami turunkan kepada
hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
Dari ayat tersebut, apa yang menjadi
spekulasi dari orang-orang Pluralis, bahwa semua penganut agama baik itu Islam,
Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya adalah sama, yakni sama-sama berhak mendapat
kebahagiaan di sisi Allah, dengan syarat beramal saleh, dan jika berbuat
kerusakan maka disebut telah murtad atau kafir. Dapat terpatahkan dengan ayat
tersebut. Sebab mereka (penganut agama selain Islam) sama sekali
tidak memantapkan (beriman) terhadap Al Quran. Sebab, orang dikatakan mu’min
jika beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat, Rasul-rasul, Kitab-kitab (yang
Allah turunkan kepada nabi Musa, Dawud, Isa, dan Muhammad), Hari Akhir, dan
Takdir (ketentuan Allah) baik dan buruknya. Sedangkan mereka orang-orang selain
Islam tidak beriman dengan keenam rukun tersebut.
وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ
بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)
“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan
ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”
Sudah barang tentu yang dimaksud ayat ini adalah kafir
bukan versi Liberalis atau Pluralis. Karena di situ jelas bahwa mereka yang “mendustakan
ayat-ayat Kami” akan kekal di neraka.
وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ
مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ
تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41)
“Dan berimanlah kamu kepada apa (Al Quran) yang
telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, [2] dan janganlah
kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya.[3] Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang
murah, dan bertakwalah kepada Allah.”
Sudah sangat
jelas, bahwa mereka para penganut agama selain Islam tidaklah mengamalkan apa
yang terdapat dalam kitabnya masing-masing, artinya mereka hanya membacanya
namun tidak mengimaninya. Apalagi sampai beriman kepada Al Quran. Padahal dalam
kitabnya disebutkan bahwa kelak akan ada nabi terakhir dengan kitabnya yang
akan membenarkan ajaran dalam kitab Taurat. Apakah pantas mereka masih
dikategorikan orang yang selamat kelak di akhirat seperti spekulasi para Pluralis?
وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ
بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (42)
“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan
dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”
Di situ jelas bahwa mereka (non Muslim)
kufur atau ingkar terhadap kebenaran yang termuat dalam kitab-kitabnya. Padahal
kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa hanya Allah semata yang pantas disembah,
akan terutusnya nabi terakhir yakni Muhammad, Isa tak lain hanyalah seorang
utusan sebagaimana utusan-utusan (Rasul-rasul) sebelum mereka seperti yang
tertera dalam Injil bahwa Isa (Yesus) mengajarkan umatnya menyembah hanya kepada Allah
semata, dan Allah adalah tuhannya. Di injil tertera: “Dengarkanlah..!
Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.. bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain
kecuali Dia.” (Ulangan: 4 : 35) dan juga dalam Markus: 12 : 29 “Jawab
Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita,
Tuhan itu Esa”. Apakah pantas penganut agama yang mengingkari ajaran
agamanya sendiri yang tertera dalam kitab sucinya masih pantas mendapatkan
kebahagiaan di Akhirat?
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا
وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ
وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman,
orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shâbi’în[4],
siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan
melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut
pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.[5]”
Ayat
tersebut menjelaskan secara gamblang bahwa, orang yang beramal saleh tapi tidak
disertai degan Iman kepada Allah dan hari akhir, yang mana hal itu menjadi
kunci diterimanya amal mereka. Sedangkan menurut para Pluralis, meskipun non Muslim
tapi melakukan suatu perbuatan terpuji maka baginya pahala dari Allah, dan
selamat di akhirat kelak.
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ
الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ
وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79)
“Maka celakalah orang-orang yang menulis
kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah.”[6]
(dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka
karena apa yang mereka perbuat.”[7]
Sudah sangat jelas bahwa Allah
sangat murka terhadap orang-orang Yahudi, yang mana mereka menulis kitab
karangan sendiri dengan menisbatkan pada Allah, hal ini bertujuan menjual
dengan harga murah untuk merendahkannya. Masihkah pantas mereka itu layak
disetarakan dengan Islam?
وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82)
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.”[8]
Dalam
ayat tersebut sudah sangat jelas adanya qayyid atau batasan bagi siapa
saja yang beriman kepada Allah. Sekarang kita amati, apakah orang-orang Nasrani,
Yahudi, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Shinto, ataupun yang lain, apakah mereka
semua beriman kepada Allah? Apakah amal saleh yang mereka lakukan telah sesuai
dengan tuntunan syari’at?
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي
إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي
الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا
مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (83)
“Dan (ingatlah), ketika Kami
mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): “Janganlah kamu menyembah selain
Allah, dan berbuat baiklah kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan
orang-orang miskin.[9]
Serta bertutur katalah baik kepada manusia.[10]
Laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu tidak
memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi)
pembangkang.”
Janji orang-orang Bani Israel yang
diambil Allah yang berupa larangan menyembah selain Allah telah dilanggar
mereka sendiri. Orang Yahudi, Nasrani, atau yang lainnya apakah juga tidak
luput dari melangar janji tersebut?
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آَمِنُوا
بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ
بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ
تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (91)
“Dan apabila dikatakan kepada
mereka: “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran),” mereka
menjawab: “Kami beriman kepada yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar
kepada apa yang setelahnya, padahal (Al Quran) itu adalah yang hak yang
membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad): “Mengapa kamu
dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang yang beriman?”.”
Orang-orang
Bani Israel mengatakan bahwa mereka beriman kepada Taurat. Orang-orang pluralis
berspekulasi bahwa orang-orang Yahudi maupun Nasrani sama saja dengan Islam.
Padahal samasekali tidak sama, mereka hanya beriman kepada Taurat dan Injil
saja, yang sudah tidak asli. Sedangkan kita mengimani keempat kitab suci Allah.
Dan lagi, orang-orang Nasrani maupun Yahudi, sudah tidak seorisinil dengan
Nasrani dan Yahudi tempo dulu.
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ
النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ
يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ
يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (96)
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati
mereka (orang-orangYahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan
(lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi
umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari
azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”
Ayat tersebut
menandakan bahwa tidak sepatutnya penganut agama Yahudi disamakan dengan kita,
penganut agama Islam. Karena mereka adalah penganut yang selalu tamak akan
dunia, yang bahkan melebihi ketamakan para Musyrikin.
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ
إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا
بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111)
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Tidak
akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan
mereka. Katakanlah: Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”
Allah
menceritakan tatkala orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku bahwa dirinya benar dan kelak akan masuk surga. Tapi
Allah justru memerintah nabi Saw. untuk menyanggahnya dan menyuruh mereka
memaparkan bukti kebenaran mereka. Kaum Pluralis mengatakan (Yahudi maupun
Nasrani) bisa masuk surga. Padahal sudah jelas dalam ayat tersebut Allah
menilai mereka adalah orang-orang yang sesat dan yang dibenci Allah, sehingga
hanya impian mereka saja bisa masuk surga-Nya.
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ
اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ
اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ (120)
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak (akan) rela kepadamu (Muhammad) sebelum
engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah adalah
petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah
ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong
dari Allah.”
Firman
tersebut sangatlah mempertegas bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nasrani
selamanya menjadi musuh kita, selama kita tidak mengikuti ajaran mereka. Dan
ini sangatlah terbukti. Buktinya adalah kini dunia tengah dikuasai oleh
kekuatan besar yakni kaum Zionis Yahudi (Amerika Serikat dan Israel). Kedua negeri itu tengah menyusun rencana besar untuk bisa menguasai
dunia dan menghancurkan kaum Muslim.
Negeri
baru Israel Raya yang merupakan negeri yang mempunyai cita-cita menyongsong
Tanah Yang dijanjikan Tuhan kepada Abram untuk keturunannya (Yahudi). Yang mana
tanah itu meliputi Mesir hingga Irak. Akan tetapi bangsa Zionis mengikuti
filosofi Makan Kacang, yang awalnya orang hanya memakan kacang-kacang yang
besar saja, akan tetapi karena yang besar telah habis maka yang kecilpun
disikat habis. Itulah yang
dilakukannya terhadap negeri-negeri Timur Tengah.
Berbagai cara yang
telah dan akan dilakukan Israel Raya demi mewujudkan cita-citanya tersebut.
Termasuk menyebarkan fitnah di negeri-negeri Timur Tengah, yang bertujuan agar
negeri-negeri tersebut saling berperang dan saling membunuh, dan akhirnya
kehancuranlah yang akan melanda negeri-negeri Timur Tengah dan melupakan negeri
Palestina yang notabene adalah saudaranya sendiri.
Tidak hanya dengan
penjajahan fisik saja yang dilakukan bangsa Zionis demi mewujudkan proyek
besarnya yakni menguasai dunia, melainkan bermacam-macam cara. Dengan menguasai
berbagai media, yakni mereka memposting apa-apa dari hasil ideology mereka,
membatasi tayangan-tayangan yang bermutu (Islami), menayangkan berbagai acara
yang dapat merusak moral umat. Menguasai bidang politik dunia, yaitu dengan
menunjuk orang bodoh yang tidak berpengalaman dalam masalah pemerintahan
sebagai kepala atau pemimpin Negara agar mudah untuk diatur, inilah yang
disebut dengan “Presiden Boneka”. Mendirikan berbagai perusahaan besar atau
pabrik-pabrik yang didirekturi oleh orang-orangnya sendiri di berbagai daerah,
dengan tujuan agar bisa menguasai pasar dunia (ekonomi dunia). Dari semuanya
itulah system penjajahan yang dilakukan mereka telah berhasil menyita perhatian
berjuta-juta mata di seluruh dunia dan anehnya para korban penjajahan tidak
merasa bahwa mereka telah dijajah oleh bangsa Zionis (Amerika Serikat dan
Israel).
Ini
semua adalah buah pikir dari bangsa Zionis Yahudi yang tak lain mereka itu
adalah musuh yang tidak akan pernah suka atau ridha kepada umat Islam, apalagi
sampai dunia dikuasai oleh umat Islam.[11]
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ
حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمن يَكْفُرْ بِهِ فَأُوْلَئِكَ
هُمُ الْخَاسِرُونَ (121)
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana
mestinya,[12]
mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya,
mereka itulah orang-orang yang merugi.”
“Membacanya
Sebagaimana Mestinya” adalah membaca Kitab Allah dengan tidak
mengubah sedikitpun darinya, dan mengamalkan apa-apa yang tertera darinya. Jika
hal itu dilakukan dengan sebenar-benarnya niscaya termasuk kategori beriman
padanya dengan sebenar-benarnya.
Orang-orang
Nasrani maupun Yahudi, samasekali tidak termasuk dalam kategori “Membacanya
Sebagaimana Mestinya”, karena itulah mereka tidak sepatutnya disamakan
dengan umat Muslim. Mereka bukan hanya tidak mengamalkan isi kandungan dari
Taurat maupun Injil, bahkan mereka telah berani mengubah. Bukan hanya bacaan,
melainkan lafadh (kalimat) yang Allah firmankan.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا
بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا
ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126)
"Dan
(Ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah)
ini negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya,
yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian," Dia
(Allah) berfirman, "Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan
sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah
seburuk-buruk tempat kembali.""
Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa
Allah sangat sentiment terhadap mereka yang tidak beriman kepada-Nya.
Jika Allah saja sudah jelas-jelas
sentiment terhadap orang-orang kafir, lalu apa dasar para kaum Pluralis mengatakan
bahwa semua agama benar, semua penganut agama apapun layak mendapatkan pahala
sehingga bisa masuk ke surga-Nya, asalkan melakukan amal saleh?
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ
وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132)
"Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya,[13]
demikian pulaYa'kub. "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih
agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim"."
Artinya, berbuat baiklah selama hidup kalian, dan berpegang
teguhlah kepada agama ini agar kalian diberi rezeki wafat dalam keadaan
berpegang teguh. Karena manusia itu biasanya meninggal dunia dalam keadaan
memeluk agama yang dijalankannya, dan kelak dibangkitkan berdasarkan agama yang
ia bawa mati.
Mereka (Kaum Yahudi) mengaku keturunan Ibrahim as. namun
kenyataannya mereka tidak mau mengikuti apa yang telah diwasiatkan beliau
kepada para keturunanya.
Bersambung…
[1] HR. Bukhari, Anbiya' Bab 50,, Tirmidzi, Ilmu Bab 13,, Ahmad
bin Hanbal Vol. 2 Hal. 159, 202, 214,, Darimi, Muqaddimah Bab 46.
[2] Maksudnya
adalah kebenaran akan datangnya nabi Muhamad Saw. sebagaimana yang telah
tertulis dalam kitab Taurat.
[3] Menurut Ibnu
Abbas dan Ath Thabari, yang dimaksud “kafir kepadanya” adalah kepada Al Quran.
Sedangkan menurut Ibnu Aliyah maknanya adalah kufur terhadap Muhammad.
[4] Tentang Shâbi’în para ulama’ berbeda pendapat. Mujahid mengatakan maksudnya
adalah mereka yang bukan Majusi, bukan Yahudi dan bukan Nasrani. Wahab bin
Muanabbih mengatakan mereka adalah orang-orang yang mengakui keesaan Allah,
tetapi tidak mempunyai agama yang diamalkan mereka.
[5] Maksudnya sebelum kedatangan Islam, kaum Yahudi, Nasrani,
dan Shâbi’în yang beriman kepada Nabi yang diutus kepada mereka. Setelah ayat ini, turunlah surah Ali
Imran ayat 85 yang menyebutkan bahwa, setelah kedatangan Islam, Allah SWT.
Tidak akan menerima amal seseorang yang tidak sesuai dengan syari’at Islam
[6] Ini merupakan
sifat yang melekat pada diri orang-orang Yahudi. Mereka mereka menyeru kepada
kesesatan dengan berbagai kebohongan dan dusta. Mereka memakan harta milik
orang lain dengan jaln yang bathil.
[7] Sebagian orang
Yahudi menulis kitab berdasarkan karangan mereka sendir. Mereka memperjual
belikannya dengan mengatakan bahwa kitab tersebut bersumber dari Allah Swt. Demi
mendapatkan keuntungan yang “sedikit”. Mereka mendapat kecelakaan, kebinasaan,
kesulitan, dan keburukan yang sangat buruk.
[8] Yaitu
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, melakukan amal saleh
sesuai dengan tuntunan syari’at maka dia akan menjadi penghuni surga.
[9] Al Yatama
artinya anak-anak kecil yang tidak memiliki orang tua yang menjamin penghidupan
mereka. Al Masakin ialah orang yang tidak mempunyai biaya untuk diri
mereka sendiri dan keluarga mereka.
[10] Maksudnya,
berkatalah kepada mereka dengan baik dan lemah lembut; termasuk dalam hal ini
adalah amar ma’ruf dan nahi munkar dengan cara yang ma’ruf.
[12] Yaitu menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram dan membacanya
sebagaimana yang diturunkan Allah Swt. dengan tidak mengubah kalimat dari
tempatnya masing-masing serta tidak mentakwilkannya kepada takwil yang tidak
seharusnya.
[13] Maksud dari
ucapan wasiat (ucapan) tersebut ialah, ayat sebelumnya yakni (QS. Al Baqarah:
131). Yang artinya: (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim),
"Berserah dirilah!" Dia menjawab: "Aku berserah diri kepada
Tuhan seluruh alam.".






0 komentar:
Posting Komentar